PENDAHULUAN Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional. Dalam kancah pasar dunia, keberadaan Indonesia se- bagai produsen kakao utama di dunia cukup diperhitungkan dan berpeluang untuk mengua- sai pasar global. Berdasarkan data ICCO (Inter- national Cocoa Organization) tahun 2014/2015, Indonesia memiliki kontribusi sebagai pemasok utama kakao dunia. Produksi kakao Indonesia menempati urutan terbesar ke-3 dunia (7,64% dari 4.251.000 ton produksi kakao dunia) setelah Pantai Gading (42,25%) dan Ghana (17,41%) (ICCO, 2016). Permintaan pasar terhadap pro- duk kakao tidak hanya dalam bentuk biji fer- mentasi, namun juga permintaan dalam bentuk olahan. Setiap tahun permintaan hasil kakao ola- han Indonesia mengalami trend yang meningkat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi industri makanan dan minuman di pasar domestik mau- pun pasar internasional (Rahmanu, 2009). Meskipun jumlah produksi kakao Indo- nesia cukup tinggi, akan tetapi volume grinding (pengolahan/konsumsi) kakaonya masih relatif rendah dibanding potensi yang seharusnya di- peroleh. Volume grinding menunjukkan volume biji kakao yang diolah oleh industri menjadi pro- duk olahan kakao (pasta, lemak, bungkil, dan bubuk kakao). Perkembangan industri pengolahan ka- kao cenderung lebih lambat jika dibandingkan dengan perkembangan usahatani kakao yang mengindikasikan bahwa industri hilir kakao be- lum berkembang dengan baik (Hasibuan, 2012). Hal ini dikarenakan selama ini Indonesia lebih banyak mengekspor kakao dalam bentuk bean sedangkan peluang industri pengolahan kakao kurang optimal dimanfaatkan, padahal industri produk olahan kakao memiliki nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja yang cukup besar (Ash- eri, 2014). Produksi kakao yang terus meningkat, po- tensi pasar yang besar, dan melimpahnya bahan baku serta ketersediaan tenaga kerja yang relatif EVALUASI PELAKSANAAN GOOD MANUFACTURING PRACTICES (GMP) DAN ANALISIS EFISIENSI BIAYA DI PUSAT PENGOLAHAN KAKAO RAKYAT JEMBRANA BALI Tidar Aden Hawa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Islam Jember Email: tidaraden29@gmail.com ABSTRACT Although the amount of Indonesian cocoa production is quite high, but the volume of cocoa grind- ing is still relatively low compared to the potential that should be obtained. Therefore, Indonesia should improve the cocoa processing industry sector. This research was intended to: analyze the implementation of each component of Good Manufacturing Practices (GMP) at Smallholder Cocoa Processing Center (PPKR) of Jembrana in accordance with Agriculture Minister’s Regulation No. 35/Permentan/OT.140/7/2008; analyze the effciency level of the use of costs at PPKR Jembrana. The research results showed that the level of GMP implementation based on Agriculture Minister’s Regulation No.35/Permentan/OT.140/7/2008 at PPKR Jembrana was still partial (47%). In the one year production, the use of costs at PPKR Jembrana was effcient indicated by the value of R/C>1, but the value was resulted by subsidized cost structure (cost of raw materials/cocoa seeds, employee salaries, depreciation of equipment, machinery depreciation, building depreciation, property and building taxes, electricity cost, and water cost). If subsidies were removed, the value of effciency would drop even become ineffcient. By the whole implementation of GMP, the ineffcient costs in form of process failure cost and product return cost can be reduced, so the effciency of the costs use will increase. Keywords: Cocoa, GMP, R/C ratio, Smallholder Cocoa Processing Center (PPKR) of Jembrana JSEP Vol 10 No. 2 Juli 2017 27