Nura: Jurnal Nusantara Raya Vol. 1 No. 3 (2022) | 116 KODE LARIK DAN BAIT PUISI BALADA TELAAH WACANA KRIDALAKSANA ATAS BUKU KUMPULAN PUISI BALADA ORANG-ORANG TERCINTA KARYA W. S. RENDRA Nizar Machyuzaar 1 & M. Irfan Hidayatullah 2 1,2 Magister Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran Pos-el: nizarmachyuzaar@gmail.com 1 dan hidayatullahirfan@gmail.com 2 Abstrak: Artikel ini membahas salah satu tradisi baru dalam penulisan puisi Indonesia sesudah kemerdekaan, yakni puisi balada yang diperkenalkan W.S. Rendra sekira tahun 1960-an. Hal ini berhubungan erat dengan satuan kebahasaan kalimat dan paragraf dalam prosa yang sejajar dengan satuan kebahasaan larik dan bait dalam membangun teks puisi balada. Karena itu, pendekatan wacana digunakan untuk membahas satuan kebahasaan larik dan bait sebagai kode teks puisi balada. Harapannya, karakteristik teks dalam puisi balada dapat ditempatkan dalam wawasan estetika puisi Indonesia baru sesudah kemerdekaan secara dialektis, baik dalam semasa maupun lintas masa. Kata Kunci: puisi balada, wacana, larik, dan bait. Abstract This article discusses one of the new traditions in Indonesian poetry writing after independence, namely ballad poetry introduced by W.S. Rendra circa 1960's. This is closely related to the linguistic units of sentences and paragraphs in prose which are parallel to the linguistic units of lines and stanzas in building ballad poetry texts. Therefore, the discourse approach is used to discuss the linguistic units of array and stanza as a text code for ballad poetry. It is hoped that the characteristics of the text in ballad poetry can be placed in the aesthetic insight of Indonesian poetry only after independence in a dialectical manner, both during and across ages. Keywords: ballad poetry, discourse, line, and verse. PENDAHULUAN Sebagai sebuah genre sastra, puisi baru Indonesia telah berkembang sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia meskipun masih dipengaruhi tradisi puisi Melayu lama, seperti syair dan pantun. Perkembangan puisi baru Indonesia periode itu tidak secepat perkembangan genre prosa, seperti cerpen dan novel, yang terdukung penerbitan bukunya melalui penerbit Balai Pustaka dan penerbit-penerbit di luar Balai Pustaka yang bertujuan ideologis dan komersil (Damono, 1984); (Teeuw, 1980); dan (Foulcher, 1977).