JMRT, Volume 3 No 1 Tahun 2020, Halaman: 12-18 12 JOURNAL OF MARINE RESEARCH AND TECHNOLOGY journal homepage: https://ojs.unud.ac.id/index.php/JMRT ISSN: 2621-0096 (electronic); 2621-0088 (print) Pengaruh Kerapatan Lamun Terhadap Kepadatan Ikan pada Padang Lamun di Perairan Selatan Bali : Studi Kasus Perairan Tanjung Benoa I Putu Irpan Aditanaya a , Elok Faiqoh a* , and IGB Sila Dharma a a Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana, Bali, Indonesia * Corresponding author email: elokfaiqoh@unud.ac.id 1. Pendahuluan Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang memiliki rizhoma, daun, dan akar sejati serta dapat beradaptasi penuh pada suatu perairan dengan salinitas yang cukup tinggi (Nontji, 2005). Lamun hidup pada daerah beriklim tropis dan subtropis. Persebaran Lamun di dunia tersebar secara merata berkisar 66 jenis (Kuo and Den Hartog, 2007) dan 12 jenis diantaranya terdapat di Indonesia. Indonesia memiliki luasan padang lamun sekitar 30.000 km 2 dan terdapat tujuh marga di dalamnya, yakni Thalassia, Enhalus, Halodule, Halophila, Syrongidium, Cymodocea dan Thalssodendrom yang terdiri dari 12 jenis, yaitu Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata, Thalassodendron ciliatum, Syringodium isoetifolium, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Halophila decipiens, Halophila minor, dan Halophila spinulosa yang memegang peranan penting bagi perairan laut dangkal (Nontji, 2005). Ekosistem padang lamun merupakan ekosistem yang memiliki peranan penting bagi ikan yakni sebagai tempat memijah (spawning ground), mencari makan (feeding ground), pembesaran (nursery ground) serta sebagai tempat berlindung bagi sebagian besar sumberdaya hayati ikan. Sementara ikan berperan dalam menjaga keseimbangan siklus rantai makanan (Supriharyono, 2007) serta bioindikator kualitas perairan (Hendrata, 2004). Selain itu, ikan merupakan sumber bahan makanan yang memiliki kandungan protein tinggi serta omega- 3 yang baik bagi perkembangan otak (Diana, 2012). Keberadaan lamun memiliki korelasi positif yang signifikan terhadap kelimpahan ikan, dimana keragaman dan kelimpahan ikan lebih banyak ditemukan pada daerah yang bervegetasi dibandingkan pada substrat kosong, hal ini terjadi karena pada daerah yang bervegetasi dapat berfungsi sebagai tempat perlindungan dari serangan predator serta terdapatnya asupan makanan (Hemminga dan Duarte, 2000). Baik secara langsung maupun tidak langsung berbagai aktivitas manusia dan industri akan memberikan dampak terhadap ekosistem padang lamun. Kegiatan pemanenan padang lamun yang dilakukan sebagai tujuan tertentu, pencemaran minyak, masuknya limbah ataupun sedimen dari daratan dapat merusak ekosistem padang lamun. Selain itu, kerusakan ekosistem padang lamun juga dapat disebabkan oleh adanya aktivitas perkapalan seperti peletakan jangkar kapal dan baling – baling kapal (Koch, 2001). Sebagain besar ekosistem padang lamun di Bali telah terdegradasi akibat aktivitas masyarakat seperti reklamasi pulau Serangan, pengambilan batu karang, budidaya rumput laut di Pulau Nusa Penida dan Lembongan, serta adanya aktivitas pariwisata ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Received: August 20 th 2019 Received in revised form: September 10 th 2019 Accepted: November 01 th 2019 Available online: February 28 th 2020 Seagrass had contributed for the life of fish, for instance as a feeding ground, spawning ground, nursery ground, and shelter. Seagrass had a positive correlation against a fish abundance, where diversity and fish abundance were found more associated with seagrass compared on an empty substrate. This research aimed to know the relationship of seagrass density and fish abundance which is important to maintain the long term sustainability of fish in Southern Bali. This research was carried out along Tanjung Benoa and done in four station points started from Tanjung Benoa Beach to Nusa Dua Beach which has characteristic white sandy beaches, big wave beach facing Indian Ocean. Data collection of seagrass used line transect method with 50 x 50 cm 2 quadrant and fish sampling used the method of visual censuses in 50 x 5 meters. The analysis of the data used in this study included analysis of seagrass density, fish abundance, linear regression, and statistic test correlation. The results showed the condition of seagrass meadow conditions in Southern Bali that could be categorized very tight. The total range of fish abundance on a 0.18 0.28 – ind/m 2 was 10 families of fish, they are Apogonidae, Nemipteridae, Pinguipedidae, Fistularidae, Cepolidae, Labridae, Diodontidae, Pomacentridae, Scorpaenidae, Chaetodontidae, and highest abundance of the family is Apogonidae. A dependent variable (fish abundance) were able to be explained by independent variable (seagrass density) and seagrass density could describe its effects on the fish abundance. The test results of the regression analysis between fish abundance and seagrass density also indicated weak correlation level between the two variables connected. 2020 JMRT. All rights reserved. Keywords: Seagrass Fish Abundance Southern Bali