Cakrawala Pendidikan Juni 2001, Th. XX, No.3 KEWARGANEGARAAN (PKn) MENJAWAD T·ANTANGAN MASA DEPAN KE ARAH INTEGRASI BANGSA Oleh : L. Hendrowibowo ::";: Fakultas IImu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta ".;: .. :: .Diterima : 20 Februari 2001 /disetujui: 15 April 200 I Abstract ". Recently' "SARA" cases appear to the direction of nation disintegration of course influences the learning in school, which ,is not good. One of the lessons that close relationship with this problem Religion Education and Civics Education. That is why according team national Education":Departement needs the learning system in Civics Education. The: lean:llng process of Civics Education with the paradigm is hoped can give the new inspiration for ".teacher to development the student capacity ti the nation integration and sicial concern. TIle "new paradigm is shoed in the way of learning that is used in the Civics Education, that the process.is very important. This case is different with the "Moral Pancasila" Education, the latter is nearly like an indoctrination. The strategy which is used in giving material of Civics Ed.ucation directed to the knowing and doing with values clarification method, problem solving and inquiry. On the hand for evaluation using direct observation, not only cognitif evaluation, but afectif and psychomotor. Key words: Civics Education, New Paradigm, Nation Integration Pendahuluan Seperti IOta ketahui akhir-akhir ini (setidaknya lima tahun terakhir) terjadi kerusuhan sosial yang berbau SARA, sejak dan Tasikmalaya (1996) Rengasdengklok (1997) Sanggau Ledo, Kalimantan Barat (1996, 1997, 200 I), Alnbon dan daerah Maluku yang lain (2000, 200]), Sambas, Kapuas, dan Pangkalan Bun (2000't 2001)'t dan bahkan Jakarta yang menjadi Ibukota negara tidak pernah absen dati kerusuhan sejak peristiwa Mei 1998. Di samping ito ditambah lagi adanya gerakan separatisme seperti gerakan Aceh Merdeka, Papua Merdeka, Gerakan Maluku Merdeka yang dimotori RMS dan bahkan setelah BJ. Habibie turon dari jabatan Presiden sebagaian rakyat Makasar (Sulawesi Selatan) pun ingin merdeka. Kejadian tersebut menggugah bati kita untuk menengok kembali peran pendidikan, khususnya pendidikan kewarganegaraan (PKn) dalam mencegah peristiwa tersebut kearah integrasi bangsa. Pola pembelajaran PKn dengan paradigma lama perlu diubah L. Hendro Wibowo, FSP FIP UNY dengan paradigma barn. Proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan paradigma bam diharapkan mampu memberikan inspirasi barn kepada guru untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam cara pembelajaran yang digunakan dalam PKn yang lebih mementingkan proses. Peran guru tidak hanya memberi pelajaran tetapi juga ikut nielnbitnbing dan melibatkan semua siswa dalam proses pemecahan persoalan yang ada di sekitar anak. Guru perlu "menginjeksikan" pengalaman bam, atau peluang bam pada siswa. Supriyoko, dosen Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa dan sekaligus pemerhati pendidikan, yang berkunjung ke Pontianak selama seminggu, pasca kernsultan mengatakan pada KR akhir taboo 1977, "untuk menghadapi berbagai tantangan yang mengarah pada disintegrasi bangsa, perlu diantisipasi oleh bangsa ini dengan pendidikan yang benar dan tepat, karena akar masalah kemsuhan di Pontianak tersebut tidak Iepas dari peran pendidikan".