Prosiding Seminar Nasional Fakultas Ilmu Kesehatan ISSN 2460-4143 Update: Upaya Promotif, Preventif, dan Rehabilitatif dalam Penanganan Stroke 37 MERENCANAKAN ATAU MENCEGAH KEHAMILAN SECARA EFEKTIF DAN EFISIEN DENGAN MONITOR OVULASI?: STUDI LITERATUR Ika Parmawati 1 Mahasiswa Magister Keperawatan FK UGM, Gedung Ismangoen, Jl. Farmako, Sekip Utara, Bulaksumur, Yogyakarta, 55281 email: ika_parmawati@yahoo.com ABSTRAK Latar belakang: Perencanaan kehamilan dibutuhkan dalam kesehatan reproduksi, namun beberapa wanita takut terhadap efek samping alat kontrasepsi. Natural Family Planning dengan monitor ovulasi dipercaya sebagai metode sederhana yang aman. Tujuan: Kajian literatur ini membandingkan efektifitas beberapa metode monitor ovulasi. Metode: Artikel didapat dengan pencarian elektronik dari 11 databased jurnal. Kriteria inklusi yang digunakan adalah subjek manusia, berbahasa inggris, dan free fulltext. Artikel yang dianalisis sebanyak 12 artikel. Hasil: Monitor ovulasi terdiri atas metode lendir servik, monitor hormon Luteinizing urin, monitor suhu tubuh basal, observasi diameter folikular, monitor folikel hormon antimulerian, observasi online, monitor hormon kesuburan elektronik, metode Peak day, dan Standard Day. Monitor ovulasi tidak hanya untuk wanita dengan siklus menstruasi teratur, karena ada metode yang mengutamakan kemampuan wanita mengenali tanda masa subur. Kesimpulan: Monitor ovulasi dapat dilakukan dengan berbagai metode untuk mengetahui waktu yang tepat dalam berhubungan seksual. Keberhasilan dipengaruhi motivasi pasangan dan kepekaan wanita mengenali tanda masa suburnya. Kata kunci: kehamilan, monitor ovulasi, perencanaan keluarga PENDAHULUAN Program keluarga berencana (family planning) telah dilaksanakan di banyak negara berkembang dari tahun 1950. Perencaan keluarga mempengaruhi praktek konsepsi, kesuburan, isu fekunditas, efek pernikahan pada pola kesuburan, usia pernikahan, risiko gangguan kehamilan, risiko kematian maternal, risiko kematian neonatal, kehamilan resiko tinggi, dan lainnya[1]. Angka Kematian Ibu adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab tidak langsung kematian ibu adalah kurang energi kronis/KEK pada kehamilan (37%) dan anemia kehamilan (40%). Penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (39%), keracunan kehamilan (20%), infeksi (7%) dan lain-lain (33%)[2]. Risiko kehamilan bagi ibu dan bayinya dapat dikurangi jika (i) ibu dalam kondisi sehat dan bergizi saat sebelum dan selama hamil, (ii) diperiksa kesehatannya secara teratur oleh petugas kesehatan terlatih, paling sedikit empat kali selama hamil (Ante Natal Care/ANC), (iii) melahirkan dibantu tenaga kesehatan terampil, (iv) jika terjadi komplikasi, ibu dan bayi dirujuk ke pelayanan kesehatan yang lebih memadai, (v) ibu dan bayi mendapat pelayanan kesehatan, perawatan, dan pemeriksaan setelah persalinan[2]. Perencanaan kehamilan mempengaruhi kesehatan reproduksi wanita. Idealnya, setiap pasangan yang merencanakan kehamilan mendapat pendidikan prekonsepsi. Saat ini masih terjadi kasus