ROSS NURUL ROHMAH, NUNIEK INA RATNANINGTYAS, ARI ASNANI 30 KAJIAN TOKSISITAS DARI TUBUH BUAH Ganoderma lucidum DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BST) ROSS NURUL ROHMAH, NUNIEK INA RATNANINGTYAS, ARI ASNANI Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Jalan dr. Suparno 63 Purwokerto 53122 ABSTRACT Ganoderma lucidum is polyporus fungi from Basidiomycetes which can be used as traditional medicines. Toxicity test with Brine Shrimp Lethality Test (BST) method using Artemia salina was conducted to find out toxic effect of G.lucidum. An extract would have toxic effect if the LC50 < 1000 µg/ml. The aims of this experiment were to know about the toxicity level from G.lucidum with Brine Shrimp Lethality Test (BST) method and determined the concentration of fruiting body extract of G.lucidum which had the best toxicity effect in LC50. There were two extraction methods used in this experiment, first one stage extraction and then multilevel extraction with hexane, ethyl acetate, and ethanol. Each solvent was made in 1000 ppm, 500 ppm, 250 ppm, and 125 ppm. This process was repeated for three times. This experiment used G.lucidum extract which was tested to A.salina and secunder compound metabolit test from the most toxic G. lucidum was done with phytochemical analysis. The result indicated that fruiting body extract from G.lucidum could kill A.salina because all extract was positively contained alkaloid and terpenoid but negatively contained flavonoid. Fruiting body extract from G.lucidum which had lowest LC50 wass ethyl asetat extract with one stage extraction in concentration 53,70 ppm and highest LC50 was ethanol extract with multilevel extraction in concentration 501,18 ppm. KEY WORDS: Brine Shrimp Lethality Test (BST), Ganoderma lucidum, LC50, Toxicity Penulis korespondensi: ANISA KARTIKA SARI | email: yozzroses@gmail.com PENDAHULUAN Ganoderma lucidum merupakan jamur poliporus dari kelas Basidiomycetes yang dikenal dengan nama Reishi atau Lingzi di negara Cina dan Jepang. Makromorfologi G. lucidum berbentuk setengah lingkaran dan berwarna merah kecoklatan dengan tepi merah kehitaman, membentuk zona konsentris, dan bagian bawah terdapat pori-pori tempat keluarnya spora. Permukaan atasnya halus dan berkilat, memiliki tangkai yang berwarna seperti tudungnya (Suryanto et al., 2005). Tubuh buah G. lucidum mengandung lemak, protein, germanium organik, polisakarida, dan adenosin. Jamur ini juga mengandung komponen antitumor berbobot molekul rendah, seperti flavonoid, tanin, alkaloid, terpenoid, dan steroid (Mizuno, 1997). Beberapa senyawa aktif dari G. lucidum yang telah diketahui memiliki aktivitas biologi adalah golongan polisakarida dan terpenoid yang dapat memberikan toksisitas dan efek antikanker. Kemampuan tersebut menjadikan G. lucidum diindikasikan untuk pengobatan kanker (Widodo, 2006). Brine shrimp lethality test (BST) adalah salah satu metode yang digunakan untuk melacak senyawa bioaktif yang terdapat di dalam bahan alam menggunakan larva Artemia salina. Larva udang ini digunakan sebagai hewan uji pada metode BST dikarenakan pertumbuhan pada fase nauplius identik dengan pertumbuhan sel kanker yaitu mitosis (Kresnamurti et al, 2008). Keuntungan penggunaan metode BST ini adalah waktu yang dibutuhkan cepat, biaya murah, pengerjaan sederhana, tidak perlu aseptik, tidak ada peralatan khusus, sampel sedikit, dan hasilnya dapat dipercaya sebelum dilanjutkan pada uji klinis (Meyer et al., 1982). A. salina merupakan organisme sejenis udang-udangan yang berukuran kecil dan dikenal dengan nama brine shrimp. Brine shrimp hidup di kadar garam yang tinggi (15-300 per mil), 25 0 C-30 0 C, dan pH 7,3-8,4 (Djarijah,1995). Larva A. salina telah digunakan sebagai uji bioaktivitas dan terdapat korelasi positif antara uji toksisitas udang laut (Brine Shrimp Toxicity) dengan potensi suatu senyawa sebagai antikanker. Uji toksisitas dilakukan dengan mengamati kematian hewan percobaan yang dianggap sebagai pengaruh ekstrak kasar yang diuji. Uji toksisitas dimaksudkan untuk memaparkan adanya efek toksik dan untuk meneliti batas keamanan dalam kaitannya dengan penggunaan senyawa yang ada dalam ekstrak tersebut.Sifat toksisitas diketahui berdasarkan jumlah kematian larva akibat pemberian ekstrak G. lucidum yang mengandung senyawa antikanker. Menurut Meyer et al.(1982), suatu ekstrak bersifat toksik terhadap A. salina apabila mempunyai harga LC50 -nya < 1000 µg/ml. Metode ekstraksi yang digunakan untuk mendapatkan ekstrak tubuh buah G. lucidum yaitu dengan menggunakan metode maserasi. Metode ini merupakan metode ekstraksi sederhana yang dilakukan dengan cara merendam sampel dalam pelarut organik pada temperatur ruangan dan terlindung dari cahaya. Pemilihan pelarut harus berdasarkan polaritas dari senyawa yang akan diisolasi. Senyawa polar akan lebih mudah larut dalam pelarut polar dan senyawa non polar akan lebih mudah larut dalam pelarut non polar. Derajat polaritas tergantung pada konstanta dielektrik. Makin besar konstanta dielektrik makin polar pelarut tersebut Sudarmadji et al., (1989) dalam Putranto (2010).