JURNAL SEHAT MASADA VOLUME XVI NOMOR 1 Januari 2022 ISSN : 1979-234 Jurnal Penelitian Kesehatan STIKes Dharma Husada Bandung 158 PENGARUH SAFETY TRAINING TERHADAP KETRAMPILAN ORANG TUA DALAM PENANGANAN CEDERA BALITA DI PMB BIDAN I KABUPATEN BANDUNG Dian Purnama Sari 1) , Retna Hermawati 2) 1 Dosen Sarjana dan Profesi Kebidanan STIKes Dharma Husada Bandung 2 Mahasiswa Diploma Tiga Kebidanan STIKs Dharma Husada Bandung dians1552@gmail.com ABSTRAK Salah satu masalah yang sering terjadi pada masa anak-anak adalah kecelakaan atau cedera. Cedera termasuk salah satu dari beberapa penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di dunia. Tindakan pencegahan cedera berupa pengawasan yang dapat dilakukan oleh orang tua, karena dalam beraktivitas anak tidak memperhatikan bahaya. Safety training sebagai kegiatan yang menjamin terciptanya kondisi yang aman, terhindar dari gangguan fisik dan mental melalui pembinaan dan pelatihan, pengarahan, dan kontrol terhadap pelaksanaan kegiatan yang dapat di lakukan oleh orang tua. Penelitian ini menggunakan quasy experimental study with control group design. Sample didapatkan dengan menggunakan simple random sampling yaitu orang tua. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2021. Cara pengumpulan data penelitian dengan menggunakan ceklist. Uji statistik dalam penelitian ini menggunakan Paired T-Test dan Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh safety training terhadap keterampilan orang tua dalam penanganan cedera balita di rumah tangga dengan uji PairedT-Test hasil pre-test dan post-test pada kelompok intervensi p=0,001 (p<0,05), sedangkan hasil pre-test dan post-test pada kelompok kontrol p=0,568. Uji Independent T- Test pada kelompok intervensi dan kontrol mendapat hasil pre-test p=0,337 (p>0,05) dan hasil post- test p=0,001 (p<0,05). Pengasuhan anak dilakukan sepenuhnya oleh orang tua, karena pada masa ini seorang anak lebih banyak dilewatkan dalam lingkungan keluarga. Kata kunci : Safety training, Cedera, Keterampilan, Balita. PENDAHULUAN Seorang anak usia toddler (1-3 tahun) menunjukkan perkembangan motorik yang lebih lanjut dan anak menunjukkan kemampuan aktivitas yang lebih banyak bergerak, mengembangkan rasa ingin tahu dan eksplorasi terhadap benda-benda yang ada disekelilingnya (Harnowo, 2013). Keterampilan motorik seperti berlari, berjalan, melompat menjadi sangat luwes, tetapi otot dan tulang belum begitu sempurna. Melihat karakteristik perkembangannya, anak usia toddler lebih berisiko terjadi kecelakaan (Kuschitha, 2007). Cedera merupakan ancaman bagi kesehatan diseluruh dunia. Menurut World Health Organization (WHO) dalam Indarwati & Ratna Dewi cedera mengakibatkan 5,8 juta kematian di seluruh dunia, dan lebih dari 3 juta kematian diantaranya terjadi di negara-negara berkembang (Aken, 2007). Berdasarkan penelitian Kuschithawati, cedera mengakibatkan 7% kematian diseluruh dunia dan angka ini masih terus bertambah (Mulyanti, 2015). World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa cedera yang disengaja dan tidak disengaja menyebabkan 42% kematian anak usia 1-4 tahun di Asia.