JURNAL ARSITEKTUR LANSEKAP ISSN: 2442-5508 VOL. 9, NO. 1, APRIL 2023 http://ojs.unud.ac.id/index.php/lanskap JAL | 21 Program Kebijakan Pengembangan Lanskap Wisata Daya Tarik Wisata Pantai Melasti, Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung Luh Putu Yulia Pradnya Pawitra 1 , Lury Sevita Yusiana 1* , Ni Luh Made Pradnyawathi 2 1. Prodi Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, Denpasar, Indonesia 800232 2. Prodi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, Denpasar, Indonesia 800232 *E-mail: lury.yusiana@unud.ac.id Abstract Tourism Landscape Development Policy Program Melasti Beach Tourist Attraction, Ungasan Village, South Kuta District, Badung. Melasti Beach is located in Badung Regency, this natural tourist attraction is used for tourist activities and socio-religious activities. The tourism activity in Melasti Beach requires the landscape development must take into account the supporting tourism aspects and the socio-religious aspects in it. The purpose of this research is to create a policy program for developing the Melasti Beach tourism landscape that is harmonious between the supporting tourism aspects and socio-religious aspects. The method used is a survey with data collection techniques through observation, interviews and literature study. The stages in this research consist of preparation, data inventory, data analysis, data synthesis and making tourism landscape development policy programs. Analysis and data synthesis were carried out quantitatively using level of assessment and descriptive levels to obtain a reference for making tourism landscape development policy programs that refer to the Tri Mandala concept. The planned policy program are planned in the form of space management programs, recommendations for problem solving and circulation during religious ceremonies and other tourist activities. Keywords: descriptive quantitative analysis, natural tourist attraction, tourism landscape policy development program, tri mandala 1. Pendahuluan Eksistensi Daya Tarik Wisata (DTW) Pantai Melasti dapat dilihat dari jumlah pengunjung yang terus meningkat setiap tahunnya. Menurut hasil pencatatan dari BUPDA Ungasan (2019), diketahui bahwa jumlah pengunjung yang datang ke DTW Pantai Melasti tahun 2019 mengalami peningkatan sebesar 190,50% dari tahun sebelumnya. Seiring dengan peningkatan kunjungan yang terjadi, ternyata hal tersebut berdampak terhadap kenyamanan Pengunjung Dengan Kepentingan Keagamaan (PDKK) yang didominasi masyarakat lokal melakukan aktivitasnya di DTW Pantai Melasti. Semakin meningkatnya volume kunjungan wisatawan di DTW Pantai Melasti membuat tak jarang ruang untuk kegiatan keagamaan bagi umat Hindu ikut menjadi sasaran untuk kegiatan wisata. Pelanggaran dan kurang teraturnya penggunaan ruang yang ada dalam jangka panjang akan memicu ketidakpuasan PDKK maupun wisatawan yang datang ke DTW Pantai Melasti. Sehingga, selain adanya perencanaan lanskap yang baik, pembuatan program kebijakan pengembangan lanskap yang tetap mempertimbangkan aspekaspek pendukung wisata dan sosial keagamaan yang ada di dalamnya adalah hal yang penting. Adapun aspek pendukung wisata yang perlu dipertimbangkan menurut Yusiana et al. (2011) diantaranya adalah letak dari jalan utama, estetika dan keaslian, atraksi, fasilitas pendukung, ketersediaan air, transportasi dan aksesibilitas serta dukungan dan partisipasi masyarakat untuk mengetahui kondisi yang ada di DTW Pantai Melasti dan acuan dalam penyusunan program kebijakan pengembangan yang akan dibuat, sedangkan aspek sosial keagamaan yang perlu dipertimbangkan adalah kondisi aspek sosial keagamaan yang ada di DTW Pantai Melasti yang didapatkan melalui tanya jawab langsung kepada narasumber seperti: wisatawan, PDKK, pengelola DTW Pantai Melasti dan tokoh adat. Solusi yang diperlukan selain pembuatan perencanaan lanskap adalah pembuatan program kebijakan pengembangan lanskap wisata yang baik untuk menjaga keberlanjutan perencanaan yang telah dibuat. Lanskap yang mempunyai permasalahan pemanfaatan di DTW Pantai Melasti dalam jangka panjang juga akan memicu pertentangan antara pengunjung, yakni PDKK dan wisatawan serta