Politeknik Negeri Sriwijaya, Jurnal Kinetika Vol. 9, No. 02 (Juli 2018): 43 – 49 43 ISSN: 1693-9050 E-ISSN: 2623-1417 https://jurnal.polsri.ac.id/index.php/kimia/index KAJIAN PROTOTIPE ROTARY DRYER BERDASARKAN KECEPATAN PUTARAN SILINDER PENGERING DAN LAJU ALIR UDARA TERHADAP EFISIENSI THERMAL PENGERINGAN BIJI JAGUNG STUDY OF ROTARY DRYER PROTOTYPE BASED ON THE REVOLUTIONS OF THE DRYER AND AIR FLOW RATE TOWARDS THE THERMAL EFFICIENCY OF DRYING CORN SEEDS Sahrul Effendy 1,a) Aida Syarif 1 , Zulkarnain, Rahmat Rendi Setiady 1,b) , M. Anjas Abdul Kholik 1 1 (Teknik Energi/ Teknik Kimia, Politeknik Negeri Sriwijaya) Jl. Srijaya Negara Bukit Besar, +620711353414 / +62711355918 e-mail : a) sahrul_effendy@yahoo.co.id, b) rendy425@gmail.com ABSTRACT Drying is one of the important processes in food handling. This is because the drying process can extend the shelf life of food products so that it can be consumed longer. The purpose of this study was to design a biomass-fueled rotary type dryer and to analyze the effect of the flow rate on the melting and thermal efficiency of the dryer to determine the optimum condition of the dryer. One of the drying equipment that can be used is a rotary type dryer. The heat source of the dryer may come from a burning heat source. The use of biomass fuel here is to reduce as well as replace the use of fossil fuels considering its existence is increasingly thinning each year. Therefore, this research will be observed from the use of coconut shell fuels on thermal efficiency of rotary type drying machine. Based on the test results of variation of hot air flow rate for drying 15 minutes it is known that the air flow rate is very influential on efficiency and decreasing of water content. Based on SNI for moisture content, the optimum condition that can be used is the air flow rate of 12 m/s with thermal efficiency of 66.55% obtained moisture content of 14.22%. Besides that, The efficiency of thermal rotary dryer increases with increasing speed of rotation. The highest efficiency value obtained at the condition of 24 RPM in 15 minutes is 74.14% Key words: Rotary Dryer, Air Flow rate, Rotational S peed, Coconut Shell, Drying 1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara dengan jagung sebagai komoditas perkebunan unggulan yang tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi sumatera selatan memiliki potensi penghasil jagung yang cukup besar, dari perkebunan jagung milik rakyat yang berlokasi dibeberapa daerah seperti Banyuasin menghasilkan 104170 ton, Ogan omering ulu selatan 63268 ton, Ogan komering ulu timur 44510 ton, palembang 66 ton, Prabumulih 94 ton dan Lubuk linggau 69 ton/tahunnya (BPS Sumsel, 2015). Jagung juga merupakan salah satu pakan ternak yang cukup berpotensi di wiayah sumatera, dimana terdapat proses pengeringan dalam pengolahannya. Pengeringan adalah salah satu metode yang sering digunakan dalam berbagai industri untuk menghasilkan bermacam-macam produk pangan atau pakan ternak serta menjaga kualitas dari produk tersebut, pengeringan merupakan suatu cara untuk menurunkan kandungan air yang terdapat didalam suatu bahan (Treyball, 1981). Ada beberapa cara untuk mengeringkan jagung diantaranya yaitu dengan menggunakan alat yang berupa dryer dan ada beberapa bentuk dari dryer itu sendiri salah satunya pengering tipe rotari. Rotary dryer secara umum merupakan alat pengering yang berbentuk sebuah drum yang berputar secara kontinyu yang dipanaskan dengan tungku. Prinsip kerja alat pengering tipe rotari ini adalah mengeringkan produk yang umumnya berbentuk granular atau padatan di dalam silinder horisontal berputar yang dialiri udara panas untuk menguapkan air produk. Pengunaan silinder horisontal berputar dimaksudkan untuk memungkinkan aliran udara mengalir secara merata melalui permukaan produk yang dikeringkan. Sebagian besar industri pengolahan pangan dan pakan ternak telah menggunakan teknologi pengeringan artifisial namun masih menggunakan sumber panas dari bahan bakar fosil yang harganya semakin meningkat dan fluktuatif. Hal tersebut merupakan faktor utama yang menyebabkan industri kecil melakukan proses pengeringan secara konvensional, yaitu pengeringan dengan bantuan sinar matahari langsung dan diangin-anginkan (Walujodjati, 2005).