Seminar Nasional Pakar ke 2 Tahun 2019 ISSN (P) : 2615 - 2584 Buku 1 : Sains dan Teknologi ISSN (E) : 2615 - 3343 1.6.1 EFEK KOMBINASI ASAM VALPROAT DAN NANO KITOSAN KUMBANG TANDUK (Xylotrupesgideon) TERHADAP VIABILITAS DAN SITOTOKSISITAS SEL KANKERLIDAH (HSC-3) Komariah Komariah 1) , Abdining Ageng 2) , Indra Kusuma 3) 1, 2) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti 3) Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi E-mail: komariah@trisakti.ac.id; aningprtkn@gmail.com; indralenycahaya@gmail.com Abstrak Kanker lidah merupakan salah satu kanker terbanyak dengan mortalitas tertinggi di dunia. Radioterapi dan kemoterapi pada kanker relatif terbatas karena toksisitasnya yang tinggi dan efek samping yang ditimbulkan. Pengembangan asam valproat dan nano kitosan Xylotrupes gideon merupakan strategi baru untuk terapi antikanker berbahan alami yang diharapkan meminimalkan efek samping terapi standar yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh paparan kombinasi asam valproat dan nano kitosan yang berasal dari X. gideon terhadap viabilitas dan sitotoksisitassel HSC-3. Penelitian menggunakan kultur sel HSC-3 yang terbagi dalam empat kelompok perlakuan, yaitu dengan pemberian kombinasi asam valproat dan nano kitosan dengan perbandingan 1:1, 1:2, 1:3, dan tanpa paparan kombinasi asam valproat dan nano kitosan (kontrol). Penelitian dilakukan untuk melihat viabilitas dan sitotoksisitassel HSC-3 menggunakan microplate reader pada panjang gelombang 450nm. Hasil uji viabilitas dan sitotoksisitas paparan kombinasi memperlihatkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan tanpa paparan kombinasi asam valproat dan nano kitosan (p<0.05). Hasil penelitian memperlihatkan semakin tinggi paparan kombinasi asam valproat dan nano kitosan memperlihatkan penurunan viabilitas serta peningatan sitotoksisitas sel HSC-3. Kata kunci: sel HSC-3, asam valproat, nano kitosan, Xylotrupes gideon Pendahuluan Kanker rongga mulut merupakan salah satu kanker yang paling umum terjadi di dunia dan sering menyebabkan kematian (Sharma dkk. 2010). Berdasarkan laporan International Agency for Research Cancer (IARC), dalam dekade terakhir telah terjadi peningkatan pada prevalensi kanker mulut, terutama pasien kanker lidah dengan kejadian tahunan lebih dari 300.000 kasus terdiagnosa dan 140.000 menunjukkan kematian (Rivera, 2015). Angka insiden kanker rongga mulut yang terjadi di Indonesia adalah sekitar 5.329 jiwa, dan angka mortalitas sebesar 2.250 jiwa (IARC, 2012).Seiring dengan berjalannya waktu, karena ketersediaan rokok tembakau dan alkohol yang mudah ditemukan, insidensi kanker lidah meningkat dan meluas kepada individu yang lebih muda. Namun variasi tingkat prevalensi juga dapat berhubungan dengan faktor genetik dan cara hidup orang di daerah geografis tertentu (Gaddikeri dkk, 2016). Sampai saat ini, penatalaksanaan kanker lidah masih dilakukan dengan cara pembedahan yang disertai dengan radiasi dan kemoterapi (Sianipar dkk, 2016). Namun, tindakan pembedahan serta pemberian radiasi dan kemoterapi sering menyebabkan berbagai efek samping terhadap jaringan normal, dengan berbagai gejala, seperti mual, muntah, anoreksia, diare, mukositis oral, dan mati rasa (Ohnishi dkk, 2015). Berdasarkan efek samping yang ditimbulkan pasca operasi dan terapi, serta biaya yang relatif mahal,