Jurnal Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol. 20 No.22020 e-issn : 2622-6960, p-issn : 0854-624X 310 HUBUNGAN KEBIASAAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN DENGAN KEJADIAN INFEKSI KECACINGAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR (STUDI LITERATUR) Wahyuni Sahani 1 , Oktovina Sanda Limbong 2 1,2 Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar *)wahyuni_sahani@yahoo.com ABSTRACT In developing countries like Indonesia, there are still many diseases that become health problems, one of which is helminthiasis. It is estimated that more than 60% of children in Indonesia suffer from worm infection, low-quality sanitation is the cause.The purpose of this study was to determine the relationship between handwashing habits with soap before eating, after defecation (BAB), and after playing with the incidence of helminthiasis in elementary school children. This type of research is a literature study. The 6 journals from 2016 - 2019, at Dukuh Kupang V Surabaya Elementary School, in school children in the Coastal Area of Tadui Village, Mamuju District, at Taqwiyatul Wathon Islamic Elementary School, North Semarang, in State Elementary School No. 5 Delod Peken Tabanan, at the State Elementary School in the Rumbai Coastal District of Pekanbaru and SDN Inpres No. 1 Wora, Wera District, Bima Regency.The results found there is a relationship between handwashing habits with the incidence of helminthiasis with Sig. = 0.012, P-value = 0.02 and P-value = 0.04, P- value = 0.018, P-value = 0.001, P-value = 0.001, and P-value = 0.00. As for who was stated to have a significant relationship with the incidence of intestinal worms is the habit of washing hands with soap before eating, the habit of washing hands with soap after bowel movements, the habit of washing hands with soap after playing.The conclusion of this study is there is a relationship between handwashing habits with soap before eating, after defecation, and after playing with the incidence of helminthiasis in elementary school children. Keywords : Wash hands with soap, worms ABSTRAK Di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, masih banyak penyakit yang menjadi masalah kesehatan, salah satunya adalah infeksi kecacingan. Diperkirakan lebih dari 60% anak-anak di Indonesia menderita suatu infeksi cacing, rendahnya mutu sanitasi menjadi penyebabnya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum makan, sesudah buang air besar (BAB), dan setelah bermain dengan kejadian infeksi kecacingan pada anak sekolah dasar. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi literatur. Adapun 6 jurnal dari tahun 2016 2019, pada SDN Dukuh Kupang V Surabaya, pada anak sekolah di Daerah Pesisir Desa Tadui Kecamatan Mamuju, pada SD Islam Taqwiyatul Wathon, Semarang Utara, pada Sekolah Dasar Negeri No. 5 Delod Peken Tabanan, pada Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru dan SDN Inpres No. 1 Wora Kecamatan Wera Kabupaten Bima.Hasil penelitian ditemukan ada hubungan kebiasaan cuci tangan dengan kejadian infeksi kecacingan dengan nilai Sig. = 0,012, P-value = 0.02 dan P-value = 0.04, P-value = 0,018, P-value = 0,001, P-value = 0,001, dan P-value = 0,00. Adapun yang dinyatakan memiliki hubungan bermakna dengan kejadian kecacingan ialah kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum makan, kebiasaan cuci tangan pakai sabun sesudah BAB, kebiasaan cuci tangan pakai sabun sesudah bermain.Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum makan, setelah BAB dan setelah bermain dengan kejadian infeksi kecacingan pada anak sekolah dasar. Kata Kunci : Cuci tangan pakai sabun, Kecacingan PENDAHULUAN Di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, masih banyak penyakit yang menjadi masalah kesehatan, salah satunya adalah infeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah atau dikenal dengan Soil Transmitted Helminths (STH). Infeksi kecacingan ini sering dijumpai pada anak usia sekolah dasar di mana pada usia ini anak masih sering kontak dengan tanah. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 (Magee et al., 2017) menyebutkan bahwa lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% dari populasi dunia terinfeksi oleh Soil Transmitted Helminth (STH). Di Indonesia pun prevalensi penyakit kecacingan masih tinggi, yaitu 45-65%. Di wilayah-wilayah tertentu dengan sanitasi yang buruk, prevalensi kecacingan dapat mencapai 80% (Chadijah, Sumolang, & Veridiana, 2014). Berdasarkan hasil penelitian faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan pada siswa SDN Inpres 1 Wora Kecamatan Wera Kabupaten Bima juga ditemukan prevalensi kecacingan 59,3 %. Prevalensi Ascaris lumbricoides 55,6 %. Distribusi kelompok umur 6-8 Tahun 52,7 %, dan distribusi jenis kelamin perempuan 50,5 %, distribusi kondisi jamban baik 59,3 %, ketersediaan air bersih baik 79,1 %, kebiasaan mencuci tangan tidak baik 73,6 %, dan kebersihan kuku tidak baik 58,2% (Syahrir & Aswadi, 2016) Data UNICEF pada tahun 2014 mengungkapkan bahwa 75,5% masyarakat Indonesia tidak mencuci tangan karena menganggap tangan mereka bersih. Padahal, salah satu cara paling murah untuk mencegah