Jurnal Teknologi Informasi DINAMIK Volume 16, No.2, Juli 2011 : 124132 ISSN : 08549524 Metode Perkiraan Laju Aliran Puncak (Debit Air) Sebagai Dasar Analisis Sistem Drainase di Daerah Aliran Sungai Wilayah Semarang Berbantuan SIG 124 Metode Perkiraan Laju Aliran Puncak (Debit Air) sebagai Dasar Analisis Sistem Drainase di Daerah Aliran Sungai Wilayah Semarang Berbantuan SIG Th.Dwiati Wismarini, Dewi Handayani Untari Ningsih dan Fatkhul Amin Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Stikubank Semarang email : thedwiwis@gmail.com, zahradw@gmail.com Abstrak Perhitungan debit air dilakukan untuk mengetahui laju aliran puncak pada Sistem Drainase . Metode yang digunakan untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit banjir) adalah metode Rasional, dimana metode ini umum dipakai karena sangat simpel dan mudah penggunaannya, namun penggunaannya terbatas untuk DASDAS dengan ukuran kecil, yaitu kurang dari 300 ha. Analisis intensitas seragam dan merata di seluruh DAS selama paling sedikit sama dengan waktu konsentrasi (tc) DAS. Beberapa metode untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit banjir) , lebih banyak ditentukan oleh ketersediaan data. Data yang digunakan sebagai indikator menentukan wilayah yang berpotensi rawan banjir berdasarkan indikator, Debit Air DAS, Curah Hujan, Topografi,dan penggunaan lahan. Analisa pada sistem drainase untuk menentukan wilayah yang berpotensi banjir dengan memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Geografi. Kata Kunci : laju aliran puncak (debit banjir), metode rasional, analisa sistem drainase, sistem informasi geografi. PENDAHULUAN Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang pada tanggal 7 – 8 Februari 2009 mengakibatkan separuh lebih jumlah Kecamatan di Semarang terendam banjir. Banjir di Semarang kali ini terbilang cukup parah. Data di Pemkot menyebutkan, separuh wilayah ibukota Jawa Tengah ini tergenang air, sebanyak 8 dari 16 kecamatan tergenang air. Ketinggian air bervariasi, antara 10 cm hingga 1 meter. Banjir hampir merata di Semarang. Di Tanah Mas, Karang Ayu, Semarang Bawah, di kotanya, di Tambak Lorok, di Mangkang, Tawang semuanya kena banjir. Sejumlah wilayah yang terendam air dengan ketinggian mencapai 11,5 meter antara lain di Mangkang, Rambutan, Purinjasmoro, Jalan Supriadi, Jalan Tunjung Biru, Karang Ayu, dan Semarang Bawah. Banjir paling parah terjadi di Mangkang dengan ketinggian mencapai 1,5 meter (diilustrasikan di gambar 1.). Gambar 1. Wilayah Semarang dengan bencana banjir tanggal 8 Februari 2009 (http://gis.sc drr.org/wpcontent/uploads/). Kawasan pantai utara Semarang rentan terhadap banjir. Daerah ini merupakan dataran rendah yang dibentuk oleh endapan banjir dan pantai. Ada enam kecamatan langganan banjir, yaitu Semarang Barat, Semarang Utara, Semarang Timur, Genuk, Tugu dan Gayamsari. Penyebab dari banjir di kota Semarang karena banjir kiriman dari hulu dan rob (limpasan air laut). Banjir kiriman yang terjadi secara periodik setiap tahun dan melanda daerah