25 ELPOSYS: Jurnal Sistem Kelistrikan POLINEMA Vol. 7 No. 1, ISSN: 2407-232X, E-ISSN: 2407-2338 Analisis Koordinasi Pengaman Pada Jaringan Tegangan Menengah 20 kV Penyulang Wajak Sukamdi, S.T., M.MT. *a) , Rhezal Agung Ananto, S.T., M.T. a) , Ruri Harsono Abi a) (Artikel diterima: Desember 2019, direvisi: Januari 2020) Abstract : Continuity of electric power is an important factor that must be considered. To keeping continuity, minimizing the fault that occurs is one of the things that must be kept. By looking at the fault data in the Wajak feeder from January 2017 to Mar ch 2018, there were 12 Feeder CB trips which out of the 12 Feeder CB trips, 9 times trip fault location were after Recloser Codo. This shows that there is a protection coordination failure on the Wajak Feeder between CB Feeder and Recloser Codo. Purpose of this research are knows recommendation of setting values on OCR and DGR relays in medium voltage 20 kV protections equipment and simulate in ETAP 12.6.0 software. After recalculating the PLN setting values, the value of the new setting. OCR (Over Current Relay) for Recloser Codo relay settings are 143 A with a time setting of 0.077 s, Outgoing Wajak Feeder of 156 A with a time of 0.21 s. For DGR relay settings (Directional Ground Relay) for Recloser Codo is 1,808 A with a time setting of 0.111 s, Outgoing Wajak Feeder is 2.34 A with a time setting of 0.166 s. The results of this calculation are included in the ETAP 12.6.0 software and the coordination of protection is better if there is fault in the Wajak feeder. Keywords : Faults, Protection, Protection Coordination. Abstrak : Kontinuitas tenaga listrik merupakan faktor penting yang harus diperhatikan. Untuk menjaga kontinuitas, meminimalisir gangguan yang terjadi merupakan salah satu hal yang harus dijaga. Dengan melihat data gangguan di penyulang Wajak pada bulan Januari 2017 hingga Maret 2018, terjadi 12 kali trip PMT Penyulang yang mana dari 12 kali Trip PMT Penyulang tersebut, 9 kali trip PMT Penyulang titik lokasi terjadi setelah Recloser Codo. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kegagalan koordinasi proteksi pada Penyulang Wajak antara PMT Penyulang dengan Recloser Codo. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui rekomendasi nilai setting rele OCR dan DGR pada peralatan proteksi 20 kV dan di simulasikan ke dalam software ETAP 12.6.0. Setelah melakukan perhitungan ulang pada nilai setting PLN, didapatkan nilai setting baru. Setting rele OCR (Over Current Relay) Recloser Codo sebesar 143 A dengan setting waktu 0.077 s, Outgoing Penyulang Wajak sebesar 156 A dengan waktu 0.21 s. Untuk setting rele DGR (Directional Ground Relay) Recloser Codo bernilai 1.808 A dengan setting waktu 0.111 s, Outgoing Penyulang Wajak bernilai 2,34 A dengan setting waktu 0.166 s. Hasil dari perhitungan ini dimasukkan ke dalam software ETAP 12.6.0 dan koordinasi proteksi menjadi lebih baik apabila terjadi gangguan di penyulang Wajak. Kata-kata kunci : Gangguan, Proteksi, Koordinasi Proteksi. 1. Pendahuluan Kualitas dan kontinuitas penyaluran tenaga listrik merupakan faktor penting yang harus diperhatikan. Permasalahan tersebut yang menyebabkan PT. PLN (Persero) harus melakukan langkah- langkah menuju peningkatan efisiensi dan peningkatan mutu pelayanan di segala sektor, dan yang paling penting adalah bagaimana mengoperasikan tenaga listrik secara handal, tidak terputus-putus atau secara kontinyu dapat menyalurkan tenaga listrik pada pelanggan. Pada suatu sistem distribusi tenaga listrik, tingkat keandalan adalah salah satu hal yang sangat penting dalam menentukan kinerja sistem tersebut. Dalam operasi sistem distribusi tenaga listrik, sering terjadi berbagai macam gangguan dan kerusakan yang dapat mengakibatkan terganggunya penyaluran tenaga listrik ke konsumen. Gangguan atau kerusakan dalam sistem distribusi akan mempengaruhi nilai keandalan sistem distribusi tersebut. Dengan tingkat keandalan yang tinggi, masyarakat pengguna listrik dapat menikmati energi listrik secara berkelanjutan. Dengan melihat data trip PMT diatas, dari 12 trip PMT, 2 kali trip PMT titik gangguan terletak di sebelum Recloser Codo dan 10 kali trip PMT titik gangguan terletak di setelah Recloser Codo. Berdasarkan kondisi tersebut, maka diperlukan analisa koordinasi setting relai di Recloser dan PMT untuk mendapatkan nilai setting yang paling ideal dengan nilai keandalan yang tinggi yang mana apabila terjadi gangguan di titik setelah Recloser, maka Recloser harus bekerja dan tidak sampai meng-trip-kan PMT Gardu Induk. Hasil analisis adalah adanya rekomendasi nilai setting OCR dan DGR pada Recloser Codo yang paling ideal Untuk itu diperlukan analisa ulang setting rele proteksi, dengan menggunakan simulasi ETAP ( Elecrtrical Transient Analyzer Program) 12.6.0 untuk membantu proses analisa koordinasi sistem proteksi dan juga perhitungan nilai fuselink yang terpasang di CO Branch. 2. Kajian Pustaka 2.1. Rumus Perhitungan Arus Hubung Singkat Dalam proses perhitungan arus hubung singkat, langkah awal yang harus diketahui adalah besar Impedansi Positif, Impedansi Negatif, Impedansi Nol dan juga besar arus hubung singkat di bus 70kV atau 150kV dari Gardu Induk. Setelah data-data terpenuhi Korespondensi: sukamdi@polinema.ac.id a) Prodi Sistem Kelistrikan, Jurusan Teknik Elektro, Polinema. Jalan Soekarno-Hatta No. 9 Malang 65141