Volume 10 No. 1 April 2019 1 PENGARUH PROSES CARBURIZING DENGAN SERBUK TULANG SAPI TERHADAP KEKUATAN MEKANIK BAJA ST 37 PADA BAUT E-BOLT Arief Fatchurrozy 1 , M. Fajar Sidiq 2 , Drajat Samyono 3 1) SMK Bakti Praja Slawi Email 1) : Fatchurrozy@gmail.com Abstrak Perkembangan teknologi terutama dalam pengerasan logam pada besi.logam besi sebagai unsur dasar dengan beberapa elemen lainya,termasuk karbon sudah meningkat dengan pesat. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai kekerasan baja karbon rendah dengan media serbuk tulang sapi terhadap proses heatretmen dengan pengujian uji tarik dan uji lengkung dengan Carburizing pada suhu 900℃ selama 120 menit Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan penelitian specimen dibagi menjadi 3 uji ,3 specimen uji kekerasan digunakan standar JIS 2243, 3 specimen uji tarik digunakan standar JIS Z 2241 dan 3 specimen uji lengkung digunakan standar JIS Z2248. Bahan yang digunakan baja ST 37 dengan karbon 0,17%, penambahan serbuk tulang sapi, media pendingin coolant, oli sae 40 dan air laut. Hasil dari proses uji kekerasan raw material dengan rata rata 128 HB yang belum proses heatreatmen,sedangkan specimen yang memiliki nilai kekerasa yang sudah melaui proses yaitu pada media oli sae 40 dengan nilai kekerasan rata rata 176 HB, media air laut memiliki nilai rata-rata 232 HB, sedangkan untuk specimen dengan media coolant memiliki rata-rata 158 HB, untuk uji tarik memiliki nilai rata rata dengan media pendingn yang berbeda yaitu nilai rata-rata uji tarik media coolant 614,46 N/mm², uji tarik media pendingin oli sae 40 bernilai 726,75 N/mm², uji tarik media pendingin air laut nilai rata rata 892,02 N/mm², dan uji bending dengan media pendingin coolant memiliki nilai rata-rata 2136,50 N/mm², uji bending dengan media air laut 2850,58 N/mm², uji bending media pendingin oli 2939,76 N/mm². Kata kunci: Carburizing, tulang sapi,baut e bolt PENDAHULUAN Salah satu proses perlakuan panas pada baja adalah pengerasan (hardening), yaitu proses pemanasan baja sampai suhu diatas daerah kritis disusul dengan pendinginan yang cepat dinamakan quench, (Djafrie, 1995). Prinsip dari full hardening adalah memanaskan baja hingga minimal di titik temperatur austenit, setelah dilakukan penahan beberapa saat, kemudian didinginkan secara memdadak/quenching dengan kecepatan pindinginan diatas kecepatan pendinginan kritis pada media air laut, oli sae 40 dan coolant. Tujuan utama quenching adalah meningkatkan kekerasan logam, sedangkan faktor utama dalam proses quenching adalah pengaturan laju pendinginan pada logam. Jika laju pendinginan terlalu lambat, logam menjadi lebih getas dan kekerasan akan berkurang. Jika laju pendinginan terlalu cepat, maka akan terjadi distorsi dan retak pada logam. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perlakuan panas, yaitu suhu pemanasan, waktu yang diperlukan pada suhu pemanasan, laju pendinginan dan lingkungan atmosfir Perlakuan panas adalah