Journal of Tourism Destination and Attraction Vol III No. 1 Juni 2015, ISSN: 2339-1987 21 STRATEGI PEMASARAN KAWASAN PECINAN SURYAKENCANA BOGOR SEBAGAI DESTINASI WISATA BUDAYA Siska Rosalisa, Made Adhi Gunadi, Meizar Rusli Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila Abstract Suryakencana Bogor Chinatown Region is a historical region that has so many heritage assets, like historic buildings, Chinese festival, heritage cuisine and old town atmosphere that’s so unique you can not find in other places in Bogor City. Besides its potential cultural attraction and heritage cuisine, Suryakencana Bogor Chinatown Region has potential historic tourism that moulded Suryakencana Region until present time dan has so many Chinese and European-mixed architectured buildings. Until now, those potential are still present, but slowly forgotten because the region is not not well-ordered and well-managed yet. All of those cultural tourism potential will be more visible and prominent to tourists if the cultural tourism potentialsare marketed by the right marketing strategy costumized with the tourist interests whose visited to the region. The used research method is mixed method. The research shows that the right segment for marketing Suryakencana Bogor Chinatown Region is the family with children segment because they are the frequent tourists who visited Suryakencana Bogor Chinatown Region for tasting the culinary in Bogor, thus the potential marketing segment for Suryakencana Bogor Chinatown Region. Keywords: Chinatown Region, Cultural Tourtism Potential, Marketing. LATAR BELAKANG Pariwisata di Indonesia merupakan salah satu sektor yang menjanjikan untuk perkembangan perekonomian Indonesia. Pada saat ini pariwisata Indonesia sedang berkembang. Perkembangan pariwisata Indonesia ditandai dengan semakin banyaknya destinasi pariwisata yang muncul dan berkembang serta peningkatan jumlah wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik dari tahun ke tahun. Selama bulan Januari-Mei 2013 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 3.364.884 wisman atau tumbuh 5,79% dibandingkan pada periode yang sama tahun 2012 sebesar 3.180.779 wisman. Perkembangan wisatawan nusantara (wisnus) berdasarkan data BPS pada triwulan I tahun 2013 sebanyak 55.702.793 atau mengalami kenaikan 3,41% dibandingkan triwulan I/2012 sebanyak 53.868.315 (Kemenparekraf, 2013). Kawasan Pecinan Suryakencana Bogor adalah kawasan bersejarah di Kota Bogor yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda yang merupakan kawasan warisan budaya Tionghoa di Bogor sekaligus pusat wisata kuliner Bogor. Menurut Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat (2012), pada masa pemerintahan J.J. Rochussen (1845-1851) di Buitenzorg (Bogor) ditetapkan keputusan pemerintah Hindia Belanda tentang peraturan pemukiman di Buitenzorg yang isinya antara lain memberi peruntukan lahan untuk orang Tionghoa di daerah yang berbatasan dengan jalan raya sepanjang jalan Suryakencana sampai tanjakan Empang. Semakin berkembangnya kawasan niaga ini membuat mereka mendirikan pemukiman yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan toko. Sampai saat ini terdapat banyak sekali bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda di kawasan tersebut yang sampai sekarang masih berdiri dan masih dihuni oleh keturunan pemilik bangunan tersebut, bahkan salah satu bangunan yang ada di kawasan tersebut, Vihara Mahacetya Dhanagun yang dibangun pada abad ke 18 (tahun 1740) sudah diakui menjadi cagar budaya oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kota Bogor (Dinas Budparekraf Kota Bogor, 2015). Saat ini, kondisi Kawasan Pecinan Suryakencana Bogor kurang terawat dan tertata dengan baik karena belum ada koordinasi yang baik antara Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kota Bogor dengan masyarakat yang bermukim di kawasan tersebut. Kesadaran para pemilik bangunan akan kelestarian bangunan peninggalan leluhurnya masih rendah sehingga keadaan bangunan banyak yang sudah terlihat kumuh brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Universitas Pancasila Journal