Seksisme dan Seksualitas dalam Lagu Pop (Kajian terhadap Lirik Lagu ‘Surti-T ejo’ Menggunakan Analisis Tekstual) Netty Dyah Kurniasari 1 Prodi Ilmu Komunikasi, FISIB, Universitas Trunojoyo-Madura Abstrak Studi ini bertujuan untuk melihat gambaran seksisme dan seksualitas perempuan di lirik lagu. Objek penelitian ini adalah lirik lagu Jamrud berjudul „Surti-Tejo. Isi lirik lagu di Indonesia mendeskripsikan hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis gambaran (representasi) seksisme dan seksualitas perempuan di lirik. Penulis menggunakan perspektif gender dan analisis wacana untuk menguak makna dibalik penciptaan lagu tentang perempuan dan seksualitas. Penulis menggunakan metode tektual analisis, sebuah tradisi dalam studi media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seksualitas perempuan telah dimanfaatkan untuk mengkonstruksi gambaran yang tidak berubah tentang perempuan di Indonesia. Kata kunci: lirik, gender, seksisme, seksualitas perempuan Abstract This study looks at how the notions of sexism and woman sexuality have been articulated in the song lyrics by the Indonesian song writer. The object of this research is Jamrud`s song titled „Surti-T ejo‟. The content of song`s lyrics in Indonesia describes love relationship between man and woman.The aims of this research are to analyze image of sexism and woman sexuality in that lyric. I used gender perspective and discourse analysis to unpack the meaning lies behind the creation of the lyric in terms of women and sexuality. Methods this research is a textual analysis, a tradition was used in media studies. The result shows that women were described as object and passive. On the other hand, men were described as subject and active.Moreover, women sexuality have been utilized as a form of constructing unchallenged image about women in Indonesia. Keywords: lyrics, gender, sexism,women sexuality Sejak tahun tahun 1960-an, isu bahasa seksisme telah menjadi debat dalam lingkungan feminis. Perhatian terhadap perubahan bahasa yang mendiskriminasi perempuan dan merendahkan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan perempuan sebagai perhatian utama teori dan aktivis feminis. Contohnya seperti seksisme dalam iklan, surat kabar serta majalah, serta cara perempuan diberi nama (label) dan ditekankan dalam teks dan interaksi. Menurut Mills (2008: 1), seksime (seperti rasisme dan bentuk diskriminasi bahasa lainnya, terbentuk karena tekanan masyarakat yang lebih besar, ketidakadilan institusi akan kekuasaan, dan akhirnya, konflik terhadap siapa yang mempunyai hak, sumber daya tertentu serta posisi tertentu (Cameron dalam Mills, 2008: 2). Mills lebih suka mendeskripsikan bahasa sebagai alat strategi oleh aktivis seksisme dan feminis, dan sebagai sarana perlawanan melawan makna, perlawanan melawan seseorang yang mempunyai hak dalam lingkungan tertentu, bicara dengan cara tertentu dan mengendalikan pekerjaan tertentu (Mills, 2008: 1). Bicara tentang seksisme tidak hanya tentang statement (pernyataan) yang hanya fokus pada gender, namun Mills juga fokus pada konteks lain di mana pendengar atau pembicara mungkin terlibat dan sebagai salah satu faktor yang memberikan konstribusi pada teks yang seksisme (Mills, 2008: 2). Faktor lain yang memberikan konstribusi pada teks yang seksisme adalah prasangka dan justifikasi bahwa aktivitas yang 1 Korespondensi: Netty Dyah Kurniasari, FISIB, Universitas Trunojoyo, Jalan Raya Telang PO BOX 2 Kamal, Madura, 69162. Telp.: 031-3011146. E-mail: nia0325@yahoo.com