Praktik Identitas Kelas dalam Stiker Kota Jurnal Sosioteknologi Edisi 18 Tahun 8, Desember 2009 748 PRAKTIK IDENTITAS KELAS DALAM STIKER KOTA Jejen Jaelani* Sinom_city@yahoo.co.id ABSTRACT Town sticker phenomenon has been appeared long time ago. This phenomenon happened without any serious purpose. At the beginning, it functioned only as a decoration. Gradually, along with the development of people thought, point of view, and the increase of their taste, the function of sticker changes. Nowadays, town stickers become a practical media of social class identity. Then such phenomenon is being observed by critical discourse analysis (AWK). Based on that analysis, town sticker has become effective media to show class identity of their owner. 1. Pendahuluan Bahasa adalah salah satu media penyampai gagasan yang paling efektif. Dalam hampir semua bidang kehidupan, bahasa memiliki peranan penting. Dengan demikian, melalui bahasa, kita dapat merekonstruksi kehidupan sosial yang ada di balik penggunaan bahasa tersebut. Bahasa adalah praktik sosial. Hal ini diungkapkan Fairclough dalam berbagai tulisannya. Ia percaya bahwa bahasa adalah bagian takterpisahkan dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, bahasa tidak semata-mata ujaran yang terlepas dari konteksnya. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa kehidupan sosial direduksi ke dalam bahasa. Aspek kebahasaan yang telah memenuhi makna dan fungsi komunikasi, umumnya dikatakan sebagai wacana. Van Dijk menunjuk ke satu aspek yang sangat penting, yaitu bahwa wacana itu hendaknya dipahami sebagai tindakan… sifatnya yang bisa berdiri sendiri dan tindakan komunikasi merupakan sesuatu yang sangat penting. (Titscher,et.al. 2009: 43). Di satu sisi, wacana terjadi dalam konteks-makro, di sisi lain wacana terjadi dalam konteks mikro. Konteks makro terjadi dalam berbagai organisasi dan institusi. Misalnya “wacana medis” yang dikatakan oleh Foucault. Dalam konteks mikro, wacana terjadi dalam waktu tertentu, tempat tertentu, dengan partisipan tertentu, dan sebagainya (Wodak 1996). Setiap ragam tekstual tertentu menuntut pola-pola tertentu yang khas. Misalnya, wacana pidato untuk pembukaan acara dies oleh rektor sebuah universitas akan berbeda dengan pidato pembukaan acara olah raga oleh gubernur. Penggambaran wacana sebagai praktik sosial menyiratkan adanya hubungan dialektik antara sebuah peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, institusi, dan struktur sosial yang mewadahinya: peristiwa diskursif *mahasiswa S2 Linguistik, Program Ilmu-Ilmu Sastra, Universitas Padjadjaran. .