Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) ISSN : 1979 911X Yogyakarta, 26 November 2016 eISSN : 2541 528X 1 GENESIS BATULEMPUNG DI PULAU NUNUKAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA Mutiara Effendi 1 , Sutikno Bronto 2 , Pudjo Asmoro 2 1,2 Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Jl. Diponegoro No. 57, Bandung 40122 1* Email : effendi.mutiara@gmail.com INTISARI Di Pulau Nunukan Provinsi Kalimantan Utara, daerah Tanjungbatu, tersingkap batulempung yang berselang-seling dengan batu pasir kuarsa. Batuan berbutir lempung juga dijumpai sebagai hasil pelapukan batuan gunung api berkomposisi basal, yang terdiri dari lava, aglomerat, dan tuf. Selain itu ditemukan juga tanah lempung argilik sebagai produk ubahan hidrotermal di dalam fasies pusat gunung api purba Sei Apok. Melimpahnya batu lempung di daerah Nunukan mengindikasikan terjadinya perulangan proses vulkanisme berkomposisi basal yang lapuk menjadi tanah, mengalami erosi, dan terendapkan kembali sebagai batuan ubahan batulempung. Selain pengamatan lapangan, dilakukan juga analisis geokimia di laboratorium untuk mengetahui komposisi kimia batuan. Analisis geokimia dilakukan dengan metode Fluoresensi Sinar-X. Hasil analisis komposisi kimia menunjukkan bahwa sampel batulempung berhubungan dengan batuan gunung api basal. Artinya, perlapisan sedimen lempung Nunukan yang berselang-seling dengan batu pasir kuarsa merupakan rombakan dari pelapukan batuan gunung api basal dan ubahan hidrotermal. Namun, hasil menunjukkan bahwa pengaruh pelapukan lebih dominan daripada alterasi. Komposisi kimia batulempung memiliki kemiripan dengan mineral lempung ilite dan montmorillonite, terutama karena kaya unsur Al, Fe, K, dan Mg. Kedua mineral lempung tersebut terbentuk pada kondisi basa dan biasa terjadi pada shales. Hal ini bersesuaian dengan pengamatan lapangan bahwa batulempung Nunukan bercampur dengan material serpihan dan batu lumpur berukuran lanau sampai lempung. Komposisi kimia yang masih cukup berbeda menunjukkan bahwa sampel belum sepenuhnya membentuk mineral lempung. Kata kunci: batulempung, genesis, geokimia, XRF 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang dan Tujuan Di dalam peta geologi regional daerah Nunukan dan Sebatik (Hidayat, dkk., 2011) Pulau Nunukan tersusun oleh batuan sedimen dan batuan terobosan. Batuan sedimen terdiri atas batupasir dan batulempung, yang dikelompokkan ke dalam Formasi Meliat (Tmm), Formasi Tabul (Tmt), Formasi Sajau (TQps) dan Aluvium (Qa). Batuan beku terobosan berupa sumbat dan retas berkomposisi andesit (a) serta dasit (c). Dari hasil penelitian terbaru Asmoro dkk. (2016) melaporkan bahwa di Pulau Nunukan terdapat gunung api purba, yang produknya berupa lava, aglomerat dan tuf. Sebagian batuan gunung api tersebut sudah mengalami ubahan hidrotermal dan sebagian lagi telah lapuk karena cuaca. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara batuan sedimen batulempung dengan bahan ubahan dan pelapukan yang berasal dari batuan gunung api setempat. Ruang lingkup penelitian dibatasi pada analisis geokimia saja. Penelitian dilakukan terhadap contoh batuan segar (fresh rocks), batuan ubahan hidrotermal (hydrothermally altered rocks), hasil pelapukan (weathered rocks), serta sedimen batulempung. Analisis kimia yang digunakan adalah metode Fluoresensi Sinar-X (XRF). Metode tersebut memiliki banyak keunggulan, seperti waktu analisis cepat, tidak merusak sampel, mampu menganalisis berbagai tipe sampel, preparasi mudah, serta syarat jumlah sampel sedikit. Berbagai keunggulan tersebut menjadikan metode analisis XRF bernilai ekonomis dan mudah digunakan. Tidak hanya di bidang geologi saja, XRF juga digunakan secara luas di berbagai bidang lainnya, seperti ekologi, arkeometrik, forensik, juga di industri semen, baja, plastik, dan lain-lain. 1.2 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian terletak di Pulau Nunukan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara (Gambar 1). Pulau Nunukan merupakan salah satu garda terdepan pada perbatasan Indonesia dengan Malaysia, bersamaan dengan Pulau Sebatik. Lokasi penelitian ditempuh menggunakan pesawat dari Bandung menuju ibukota Provinsi Kalimantan Utara, yaitu Tarakan. Perjalanan