377 Gaswanto, R. et al.: Seleksi Tanaman Tomat Berdasarkan Ketahanan Pasif dan ... J. Hort. 19(4):377-385, 2009 Seleksi Tanaman Tomat Berdasarkan Ketahanan Pasif dan Aktif terhadap CMV Gaswanto, R., N. Gunaeni, dan A.S. Duriat Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Parahu 517, Lembang, Bandung 40391 Naskah diterima tanggal 18 Maret 2008 dan disetujui untuk diterbitkan tanggal 5 Oktober 2009 ABSTRAK. Tujuan penelitian ialah menentukan cara seleksi yang efektif ketahanan tanaman secara pasif maupun aktif terhadap CMV untuk mendukung program pemuliaan tanaman tomat. Penelitian terdiri atas 2 tahap. Tahap pertama dilakukan pada Juni-Desember 2001 dan tahap kedua dilakukan pada September 2002- Agustus 2003. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.200 m dpl.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seleksi ketahanan pasif tanaman tomat terhadap CMV efektif apabila diarahkan pada karakter morfologi daun. Tanaman yang tahan CMV memiliki karakteristik jumlah daun yang sedikit, tetapi berbulu lebat dengan jumlah stomata banyak. Seleksi ketahanan aktif tanaman tomat terhadap CMV efektif bila didasarkan pada indeks penyakit secara visual yang ditunjang dengan teknik serologi melalui uji ELISA, karena tingginya peran gen aditif dalam mengendalikan karakter konsentrasi virus. Katakunci: Lycopersicon esculentum; Cucumber mosaic virus; Heritabilitas; Morfologi daun. ABSTRACT. Gaswanto, R., N. Gunaeni, and A.S. Duriat. 2009. Tomato Selection Based on Passive and Active Resistancy to CMV. The aim of this experiment was to determine the effective selection method either using active or passive resistancy to CMV on tomato, for supporting tomato breeding program. The experiment was conducted at Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang consisted of 2 steps. The frst step was conducted on June to December 2001, while the second step was held on September 2002 to August 2003. The results showed that passive resistance selection to CMV on tomato would be effective if it was focused on the characters of leaf morphology. The plants resistant to CMV had fewer leaf number, dense leaf pubescence, and abundance of stomata numbers. Meanwhile, active resistance selection would be effective if it was based on index disease symptom supported by ELISA test, because of high role of additive gene in controlling virus concentration. Keywords: Lycopersicon esculentum; Cucumber mosaic virus; Heritability; Leaf morph type. Tomat ( Lycopersicon esculentum Mill.) merupakan salah satu sayuran penting di Indonesia. Selain dikonsumsi segar, buah tomat juga digunakan sebagai bahan baku industri makanan olahan, pewarna, kosmetik, dan obat-obatan. Banyaknya kegunaan buah tomat menyebabkan permintaan setiap tahun cenderung meningkat. Data statistik hortikultura menunjukkan bahwa produksi buah tomat di Indonesia pada tahun 2005 sebesar 647.020 t (12,64 t/ha) atau sekitar 7,11 % dari total produksi sayuran di Indonesia, sementara data statistik pada tahun 2006 menunjukkan bahwa produksi buah tomat di Indonesia sebesar 421.397 t (11,77 t/ha). Hal ini menunjukkan penurunan produksi pada periode tahun 2005-2006. Oleh karena itu perlu upaya peningkatan produksi secara efektif (Direktorat Jenderal Hortikultura 2006, Badan Pusat Statistik 2006). Laporan dari berbagai negara, termasuk Indonesia menyebutkan bahwa salah satu penyebab rendahnya hasil panen tomat adalah serangan virus mosaik ketimun (cucumber mosaic virus=CMV). Virus mosaik ketimun merupakan patogen utama pada berbagai jenis sayuran, khususnya cabai dan tomat (Duriat et al. 1992). Di Taiwan, CMV menyebabkan kerugian ekonomis pada paprika, tomat, gladiol, dan pisang (Hsu et al. 1989 dalam Rahardjo et al. 2005). Virus ini dapat menyerang tanaman sebagai penyakit tunggal atau berasosiasi dengan virus lain. Infeksi CMV dapat menyebabkan penurunan hasil sebesar 30-60%, bahkan menurut Waterworth (1979) dalam Muharam (1987) infeksi CMV pada tanaman tomat yang sangat muda dapat menyebabkan kerusakan sampai 100%. Di alam, CMV ditularkan oleh 60 jenis aphid secara non persisten. Menurut Smith (1972 dalam Sutarya et al. 1996) penularan CMV yang paling efsien melalui kutu daun Myzus persicae. Salah satu metode pengendalian yang efektif terhadap virus tersebut adalah dengan penggunaan kultivar resisten (Nono Wondim et al. 1991). Menurut Greenleaf (1986), mekanisme resistensi