Jurnal Ceteris Paribus ISSN 2964-0296 (Online) Vol. 1, No. 1, Maret 2022, hlm. 8-15 Tersedia online: http://jcp.fib.unand.ac.id/index.php/jcepe DOI: https://doi.org/10.25077/jcp.1.1.8-15.2022 8 Film Sebagai Media Dakwah Pada Masa Orde Baru: Studi Kasus Film-Film Rhoma Irama (1978-1991) Ifkar Fikri *, Yenny Narny Afiliasi: Universitas Andalas Email: ifkarfikri@student.unand.ac.id*; yennynarny@hum.unand.ac.id Informasi artikel: Naskah diterima: 5 Januari; Revisi: 15 Februari; Disetujui: 28 Maret 2022 Abstrak: Penelitian ini mengkaji film religi sebagai media dakwah masa Orde Baru. Film yang dijadikan fokus penelitian adalah film religi yang dibintangi Rhoma Irama berjudul Raja Dangdut (1978), Perjuangan dan Doa (1980), Satria Bergitar (1984), dan Nada dan Dakwah (1991). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interprestasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa keempat film religi tersebut berhasil membangun gambar dan suara yang berisikan pesan-pesan Islam dalam kecurigaan pemerintah Orde Baru yang anti-Islam. Kata kunci: film, religi, historiografi, pemerintah, Orde Baru Pendahuluan Perkembangan film religi Islam di Indonesia relatif terbilang cukup muda dibandingkan dengan film-film dengan genre lainnya. Film dengan genre ini baru diproduksi pada 1959 melalui karya Asrul Sani berjudul Titian Serambut Dibelah Tujuh (Rosidi, 1997). Pada masa rezim genre film religi Islam tidak banyak diproduksi. Hal ini terkait kondisi perpolitikan nasional yang dikuasai kelompok Komunis. Partai Komunis Indonesia (PKI) kala itu sering memboikot film-film yang bernilai berseberangan paham dengan mereka, salah satunya hal berkaitan dengan Islam atau religi. Film berjudul Tauhid, contohnya, disutradarai oleh Asrul Sani, diboikot pendukung PKI. Aksi boikot yang dilakukan oleh PKI menyebabkan terbatasnya ruang gerak para sineas golongan Islam dalam berkarya sehingga film religi bertemakan Islam tidak berkembang dengan baik. Kondisi yang berbeda terjadi setelah Orde Baru berkuasa. Meski terjadi deideologisasi dalam politik Islam ketika itu, melalui kontrol pemerintahan Orde Baru di hampir seluruh aktifitas sosial umat Islam. Namun hal ini tidak menghentikan para pekerja film untuk memproduksi karya-karya bergenre religi. Cukup banyak film religi Islam yang popular di masyarakat pada masa Orde Baru, salah satunya film bergenre religi Islam yang dibintangi Rhoma Irama.