WALIMATUL HAMLI DALAM BALUTAN TRADISI JAWA (Studi Kasus di Keluarga Ibu Zakiyah Desa Margoagung Kec. Sumberrejo Kab. Bojonegoro) Jurnal Laporan Penelitian Lapangan Disusun Guna Memenuhi Tugas UAS Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus Jurusan Ushuluddin Prodi Ilmu Qur‟an & Tafsir 2016 Di-upload di: http://salahuddinibnusjahad.blogspot.co.id/2016/12/walimatul-hamli- dalam-balutan-tradisi.html Mata Kuliah : Antropologi Al-Quran Dosen Pengampu : Efa Ida Amaliyah, MA. Oleh: Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi NIM: 1330110015 Metodologi Jenis Penelitian ini adalah kualitatif. Data diambil langsung ke sumber primer dengan cara observasi dan wawancara di rumah keluarga ibu Faridatuz Zakiyah yang tengah mengandung calon anak pertamanya. Adapun pemaknaan terkait tradisi yang dilakukan diambil dari sumber data sekunder, yakni penelitian terdahulu terkait tradisi kehamilan, mengingat keterbatasan pemahaman keluarga si ibu hamil dalam memaknai prosesi yang dijalani. Foto kegiatan walimah ataupun segala kelengkapannya (ubarampe) tidak disajikan mengingat keterbatasan media yang dimiliki peneliti. Analisis data menggunakan Pendekatan Fungsionalisme model Malinowski, berpadu dengan teori internalisasi budaya. Walimatul Hamli dalam Islam Allah SWT menurunkan Islam, yang berisi aturan-aturan hidup yang sangat lengkap dan sempurna kepada kita. Dalam permasalahan penjagaan keselamatan anak (janin yang dikandung) dari gangguan setan (yang mereka istilahkan ruh-ruh jahat dalam upacara adat yang biasa dilakukan), jauh sebelum kehamilan sang anak, Islam telah menetapkan tata cara yang baik dalam pergaulan suami istri. Islam menuntunkan agar setiap hamba senantiasa berupaya untuk terus mendekatkan dirinya kepada Dzat yang telah menciptakannya dan memberikan nikmat kepadanya. Karena itu yang paling utama untuk dilakukan oleh seorang ibu selama masa kehamilannya adalah memperbanyak taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. dengan ibadah seperti shalat, do‟a, dzikir dan membaca al-Qur‟an. Ini penting sekali untuk menambah bekal keimanan seorang ibu, yang dengan iman tersebut insya Allah ia akan siap dalam menghadapi segala keadaan. 1 Menurut Fazlurrahman, tradisi Islam bisa terdiri dari elemen yg tidak islami, yang tidak ada dasarnya dalam alQur‟an dan al-Sunnah. Jadi perlu dibedakan antara Islam itu sendiri, sejarah Islam atau tradisi Islam. Ajaran Islam yg termuat dalam al-Qur‟an dan Hadits adalah ajaran yang merupakan sumber asasi dan ketika sumber itu digunakan atau diamalkan dalam suatu wilayah -sebagai pedoman kehidupan, maka bersamaan dengan itu tradisi setempat bisa saja mewarnai penafsiran masyarakat lokalnya. Karena penafsiran itu bersentuhan dengan teks suci, maka simbol yang diwujudkannya juga merupakan sesuatu yang sakral. 2 Tradisi Jawa Terkait Kehamilan Yusno Abdullah Otta dalam menggenapi pemikiran Seyyed Hossein Nasr mengatakan bahwa dalam pandangan tradisionalis, tradisi, beserta nilai dan ajarannya, bersifat perennial. Tradisi adalah, meminjam istilah Charles Taylor, sources of the self, sebagai „sesuatu‟ yang sulit untuk dilepaskan dari unsur universalitasnya. Tradisi dalam kehidupan sosial budaya menjadi bingkai bagi setiap masyarakat dalam mengekspresikan