1 RELEVANSI LINGUISTIK FUNGSIONAL DALAM STUDI AL-QUR’AN Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi ayyubi.rois@gmail.com MIAT-F UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (NIM. 22205035009) Pendahuluan Bahasa, sesungguhnya tidak hanya berbentuk bunyi atau suara, akan tetapi lambang- lambang sekalipun juga disebut sebagai bahasa. Bahasa dalam bentuk lambang seperti bahasa tulisan, rambu-rambu, isyarat, dll. semua itu memiliki semantic yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan. Signifikansi bahasa dalam kehidupan sosial dinilai begitu menentukan, mengingat hanya bahasalah satu-satunya media yang paling efektif dalam menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau juga hasrat hati (perasaan) kepada orang lain. Namun demikian, jika bahasa ditinjau dari sisi eksternalnya, akan ditemukan beragam fungsi bahasa sesuai dengan disiplin ilmu yang mengilhaminya. Dari sisi sosio-lingustik misalnya, menganggap bahwa fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dianggap terlalu sempit. Sebagaimana pendapat Fisyman, persoalan sosio-linguistik adalah “Who Speak, What language, To Whom, When, and To What end.” Oleh sebab itu, menurut pandangan sosiolingustik, fungsi-fungsi bahasa dapat dilihat dari sudut: penutur, pendengar, topik, kode, dan amanat pembicaraan. 1 Jika dilihat dari sudut penutur, bahasa berfungsi sebagai personal. Dalam arti, ketika si penutur berbicara dengan orang lain, secara bersamaan ia tengah mengutarakan sikapnya terhadap orang lain, sehingga lawan bicaranya pun dapat menilai apakah si penutur dalam situasi dan kondisi gembira, marah atau sedih. Dari sudut pendengar, bahasa berfungsi sebagai direktif (membentuk tingkah laku pendengar). Karena ketika si penutur menggunakan kalimat-kalimat perintah, himbauan ataupun rayuan, maka secara bersamaan orang yang diajak bicarapun akan memperlihatkan sikap dan tingkah laku sesuai dengan responnya terhadap bahasa penutur. Dari sudut topik/ujaran, bahasa berfungsi sebagai referensial. Dalam arti bahasa digunakan untuk membicarakan obyek atau peristiwa yang ada di sekeliling penutur kepada pihak lain. Dari sudut kode, bahasa berfungsi sebagai metalingual. Maksudnya adalah bahasa berfungsi menjelaskan bahasa itu sendiri. Tidak seperti pada umumnya, di mana bahasa digunakan sebagai referensial, tetapi dalam hal ini bahasa digunakan untuk menjelaskan bahasa itu sendiri. Hal ini dapat dicontohkan ketika seseorang mengajarkan gramatikal bahasa Indonesia, dengan sendirinya ia akan menggunakan bahasa untuk mengajarkan bahasa itu sendiri. Dilihat dari sisi pesan yang disampaikan atau amanat pembicaraan, dalam tinjauan sosiolinguistik, bahasa berfungsi sebagai imajinatif. Artinya bahasa digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan kepada orang lain. Dari sisi ini, terlihat persamaannya dengan fungsi bahasa ketika ditinjau dari disiplin ilmu linguistik (tinjauan bahasa dari sisi bahasa itu sendiri). 2 Sejarah, Tokoh dan Teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF), atau Systemic Functional Linguistic (SFL) bermula dari asumsi J.R. Firth tentang bahasa bahwa bahasa kembali pada dirinya (Language turned back on itself). J.R. Firth (sekitar tahun 1930-1950) meyakini bahasa akan kembali pada kealamiannya (nature) yakni berkaitan langsung dengan posisi filosofis dari bahasa itu sendiri. Pemikiran ini berbeda dengan aliran Leonard Bloomfield yang condong menyelidiki bahasa dan strukturnya. M.A.K Halliday sebagai murid J.R. Firth nantinya mengembangkan asumsi ini dan menaruh perhatian yang besar terhadap bahasa dan makna, serta bahasa dan fungsi sosialnya. 3 Michael Halliday yang bernama lengkap Michael Alexander Kirkwood Halliday (13 April 192515 April 2018) merupakan seorang guru dan pakar bahasa Inggris kelahiran 1 Sahkholid Nasution, 2017, Pengantar Linguistik Bahasa Arab, Sidoarjo: Lisan Arabi, h. 50. 2 Sahkholid Nasution, 2017, Pengantar Linguistik Bahasa Arab, Sidoarjo: Lisan Arabi, h. 52. 3 https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Linguistik_Fungsional_Sistemik