DOI: https://doi.org/10.34151/jurtek.v15i2.3158 110 Asrul Sani et al., Fasies Sedimen Kuarter Kaitannya Dengan Potensi Likuefaksi Di Kawasan Das Cimanuk, Indramayu, Jawa Barat Fasies Sedimen Kuarter Kaitannya Dengan Potensi Likuefaksi Di Kawasan Das Cimanuk, Indramayu, Jawa Barat Rifki Asrul Sani 1 , Eko Soebowo 2 , Imam A. Sadisun 3 1 Politeknik Batulicin, 2 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bandung, 3 Institut Teknologi Bandung Email: kang.sani.geologi@gmail.com 1 , ekosoebowo@gmail.com 2 , iasadisun@itb.ac.id 3 ABSTRACT The lower Cimanuk catchment area which will be developed as industrial area is dominated by Quaternary deposits which are susceptible againts liquefaction if large earthquakes occurred. The presence of Subang, Cirebon 1 and Cirebon 2 active fault segments will trigger earthquake which potentially liquefaction. This study aims to characterize the type of sedimentary facies induced liquefaction hazard in the lower Cimanuk catchment area, Indramayu, West Java. This research methods consist of borehole description and sedimentary facies analysis based on CPT and CPTu data with cone resistance (qt) corrected value, friction ratio (Fr), laboratory analysis and liquefaction potential based on SNI 1726:2019, which is deterministic and 2,500 years return period PGA value. Based on facies association analysis there are three facies that developed in the study area. First, delta plain facies consisting of fluvial sands, silt and clay. Second, delta front facies consisting of beach ridge sands and sandy silt. Third, silt and clay prodelta facies. Liquefaction potential analysis based on N-SPT, CPT and CPTu data shows that almost all test point are potentially liquefied, especially beach ridge sands and silty sand delta front facies. Liquefaction potential is more in the northern region of the study area, caused by the low density of sand and sandy sediments (N-SPT value < 10 or qc < 6,000 kPa). Keywords: liquefaction potential, quartenary sediment, sediment facies INTISARI Kawasan DAS Cimanuk bagian hilir yang akan dikembangkan sebagai kawasan industri didominasi oleh endapan Kuarter yang rentan terhadap ancaman bahaya likuefaksi apabila terjadi guncangan gempa besar. Terdapat segmen sesar aktif Subang, Cirebon 1 dan Cirebon 2 akan memicu kejadian gempa yang berpotensi terhadap kejadian likuefaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi tipe fasies sedimen kaitannya dengan ancaman bahaya likuefaksi pada DAS Cimanuk bagian hilir, Indramayu, Jawa Barat. Metode penelitian meliputi deskripsi inti bor teknik dan analisa fasies sedimen berdasarkan data CPT dan CPTu dari nilai koreksi resistensi kerucut (qt), gesekan lengan (Fr), analisis laboratorium dan analisis potensi likuefaksi dengan skenario PGA berdasarkan SNI 1726:2019 yakni nilai PGA deterministik dan periode ulang 2.500 tahun. Berdasarkan hasil analisis asosiasi fasies sedimen terdapat tiga fasies yang berkembang di daerah penelitian. Pertama, fasies delta plain yang terdiri dari pasir endapan sungai, lanau dan lempung. Kedua, fasies delta front yang terdiri dari pasir pematang pantai dan lanau pasiran. Ketiga, fasies lanau dan lempung prodelta. Analisis potensi likuefaksi berdasarkan data N-SPT, CPT, dan CPTu menunjukkan bahwa hampir keseluruhan titik uji berpotensi likuefaksi, terutama fasies pasir pematang pantai dan lanau pasiran delta front. Potensi likuefaksi lebih banyak berada pada wilayah utara daerah penelitian, yang disebabkan oleh rendahnya tingkat kepadatan sedimen pasir dan pasiran (nilai N-SPT < 10 atau qc < 6.000 kPa). Kata kunci: fasies sedimen, potensi likuefaksi, sedimen kuarter PENDAHULUAN Berdasarkan hasil riset dan studi Pusat Gempa Nasional tahun 2017 (Irsyam dkk., 2017), kawasan DAS Cimanuk bagian hilir di Kabupaten Indramayu yang akan dikembangkan sebagai Kawasan Industri berada pada tiga zona segmen sesar aktif. Ketiga segmen sesar aktif tersebut memiliki besaran magnitudo yang berbeda, di antaranya segmen sesar Subang dengan skala 6,5 Mw, segmen sesar Cirebon 1 dengan skala 6,2 Mw, dan segmen sesar Cirebon 2 dengan skala 6,5 Mw. Kejadian Gempa yang merusak di Indramayu dan sekitarnya pernah terjadi tahun 1847 (Nguyen dkk., 2015), yang kemungkinan terjadi fenomena likuefaksi. Secara umum, Indramayu termasuk