Copyright ©2022 ARCADE:This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License[CC BY SA]
82 Jurnal Arsitektur ARCADE: Vol. 6 No.1, Maret 2022
MODIFIKASI DESAIN BANGUNAN UNTUK PENANGGULANGAN
SAMPAH DI PERMUKIMAN LAHAN BASAH TEPIAN SUNGAI
Maya Fitri Oktarini*, Tutur Lussetyowati, Ahmad Siroj, Alif Sirajuddin Bahri, dan Tiara Effendi
Universitas Sriwijaya, Palembang
E-mail: mayafitrioktarini@ft.unsri.ac.id
Abstract: Residential activities on the banks of the river produce a lot of garbage that floats in
the river overflow. These settlements lack waste management systems and infrastructure and
littering behavior. The results of this study recommend building and environmental
modifications related to these problems. The modification takes into account the geographical
conditions and the resident behavior. The research location is in a densely populated residential
area on the banks of the Musi River, Palembang. Data was collected through a survey by
observing the function and physical structure of the building as well as interviews that recorded
the behavior and perceptions of the local community. Observations show that the most waste
accumulates under stilt houses and yards on land that is flooded by a river overflow. Piles of
garbage were also found at small rivers stream. Garbage drifts between houses on stilts without
fences carried by the water flow. Most residents always litter on land without owners or in the
streams. Making a net fence as a barrier between the yard and the under a building, as well as
structuring the landscape with wetland vegetation, can prevent the drifting away garbage for
facilitating disposal. can also be modified with wire netting as a barrier for littering.
Keywords: Garbage Disposal, Littering, riverside settlement, and Design modification
Abstrak: Aktivitas pemukiman di bantaran sungai banyak menghasilkan sampah yang
mengapung di luapan sungai. Permukiman ini tidak memiliki sistem dan infrastruktur
pengelolaan sampah dan perilaku membuang sampah sembarangan. Hasil penelitian ini
merekomendasikan modifikasi bangunan dan lingkungan terkait dengan permasalahan
tersebut. Modifikasi memperhitungkan kondisi geografis dan perilaku penduduk. Lokasi
penelitian berada di kawasan pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Musi,
Palembang. Pengumpulan data dilakukan melalui survei dengan mengamati fungsi dan
struktur fisik bangunan serta wawancara yang merekam perilaku dan persepsi masyarakat
setempat. Pengamatan menunjukkan bahwa sampah paling banyak menumpuk di bawah
rumah panggung dan pekarangan di lahan yang tergenang luapan sungai. Tumpukan sampah
juga ditemukan di aliran sungai-sungai kecil. Sampah hanyut antar rumah panggung tanpa
pagar terbawa aliran air. Sebagian besar penduduk selalu membuang sampah sembarangan
di tanah tanpa pemilik atau di sungai. Pembuatan pagar jaring sebagai pembatas antara
halaman dan kolong bangunan, serta penataan lanskap dengan vegetasi lahan basah, dapat
mencegah hanyutnya sampah untuk memudahkan pembuangan. Aliran juga dapat
dimodifikasi dengan jaring kawat sebagai penghalang untuk membuang sampah
sembarangan.
Kata kunci: Pembuangan sampah, Pembuangan sampah sembarangan, permukiman tepi
sungai dan Modifikasi desain
PENDAHULUAN
Pembangunan pemukiman di tepian sungai
menyebabkan permasalahan pencemaran
lingkungan. Padahal, tepian sungai adalah kawasan
penjaga keseimbangan bagi ekosistem perairan dan
daratan. Kawasan tepian sungai memiliki fungsi
ekosistem vital bagi perkotaan sebagai kawasan
resapan air, pencegah sampah dan limbah langsung
mengalir ke sungai, habitat bagi ekosistem sungai
dan sumber satu satunya air bersih perkotaan.
Pembangunan bangunan rumah menyebabkan
hambatan bagi aliran air sungai. Pembangunan
permukiman seringkali diikuti dengan penimbunan
lahan yang menyebabkan berkurangnya luasan
kawasan resapan. Terlebih lagi, aktivitas dari
permukiman tepian sungai juga menghasilkan
sampah dan limbah. Oleh karena itu, keberadaan
permukiman tepian sungai menghambat
keberlanjutan fungsi ekologis sungai.
Penggusuran permukiman tepian sungai dengan
tujuan konservasi lahan sudah sulit dilakukan.
Sebagian Kota di Indonesia berkembang pada
tepian sungai. Demikian juga dengan Kota
Palembang, Permukiman tepian sungai di kota ini
membentuk karakter Kota Palembang sebagai kota
Informasi Naskah:
Diterima:
23 November 2021
Direvisi:
17 Januari 2022
Disetujui terbit:
19 Maret 2022
Diterbitkan:
Cetak:
29 Maret 2022
Online
29 Maret 2022