LIKHITAPRAJNA Jurnal Ilmiah, Volume 23, Nomor 2, September 2021 p-ISSN: 1410-8771, e-ISSN: 2580-4812 ___________________________________ Persepsi Generasi Muda terhadap Budaya Maren dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika 110 Persepsi Generasi Muda terhadap Budaya Maren dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika Pieter Rumheng 1 Ni Wayan Suarniati 2 Nukhan Wicaksana Pribadi 3* 1,2,3 Fakultas iKeguruan idan iIlmu iPendidikan, Programi Studii Pendidikani Pancasilai dani Kewarganegaraani Universitasi Wisnuwardhana Malang *Email: nukhan.wp@gmail.com Abstract: Maren culture is a tradition of the people of the Kei archipelago, especially in the community in Ohoi Ur-Island, in the form of mutual cooperation, please help fellow citizens. This culture has existed since their ancestors. However, in this era of modernization and globalization, Maren culture has begun to fade. Thisi studyi aimsi are: (1) toi determinei the younger generation's perceptioni of Maren culture, (2) to know how to develop Maren cultural values to support the values of Bhineka Tunggal Ika through a qualitative approach. The resultsi showedi ithat: (1) The younger generation's perception of Maren culture is that it is a habit or way of life of the community to relieve the help of others by working together, (2) How to develop Maren culture to support the value of Bhineka Tunggal Ika, namely (a). The local government, namely the Regent and Mayor of Tual in Southeast Maluku Regency, must be able to issue a regional regulation that can build public awareness of the importance of Maren culture, (c). For parents or traditional leaders and the community, they are re-applying the real Maren culture so that it can be seen and passed on by the younger generation. Keywords: Young Generation, Maren Culture, Bhineka Tunggal Ika PENDAHULUAN Indonesia merupakan Negara yang sangat multikultural dengan berbagai budaya, ras, agama, dan suku yang berbeda-beda, namun demikian perbedaan yang amat kompleks dapat bersatu padu dalam keBhineka Tunggal Ika-an sehingga perbedaan tidak lagi menjadi suatu persoalan iyang idapat imenyebabkan iperpecahan dalami berbangsai dani bernegarai hanya karena tidak adanya ingin saling toleransi terhadap perbedaan yang merupakan kekayaan Negara Indonesia. iBangsa iIndonesia merupakani bangsai yangi lahiri karena kemajemukani dan iperbedaan iyang dipersatukani olehi kesadarani ikolektif iuntuk ihidup isebagai ibangsa iyang imerdeka dani berdaulat. iPemahaman igenerasi muda iterkait inilai-nilai iyang iterkandung idalam Pancasilai semakini terdegradasii dani terkikisi olehi adanyai nilai-nilaii barui iyang tidaki sesuaii dengani jatii dirii bangsa. iIronisnya, isementara inilai-nilai ibaru iini ibelum sepenuhnyai dipahamii dani idimengerti, inamun inilai-nilai ilama isudah imulai ditinggalkanidanidilupakan. Tanpa idisadari, generasi penerus bangsa bergerak semakini menjauhi dariiPancasilai sebagaiijatii diri ibangsa iyang ibercirikan isemangat gotongiroyong. Perubahan besar di era globalisasi ini tidak serta merta memberikan dampak yang baik terhadap ke Indonesia kita. Masyarakat Indonesia yang multikultural ini