Techno.COM, Vol. 12, No. 3, Agustus 2013: 157-167 157 ANALISIS STEGANOGRAFI METODE LEAST SIGNIFICANT BIT (LSB) DENGAN PENYISIPAN SEKUENSIAL DAN ACAK SECARA KUANTITATIF DAN VISUAL Erwin Yudi Hidayat 1 , Khafiizh Hastuti 2 1,2 Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Dian Nuswantoro Jalan Nakula I No. 5-11, Semarang, 50131, (024) 3517261 E-mail : erwin@dsn.dinus.ac.id 1 , afis@dosen.dinus.ac.id 2 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap steganografi Least Significant Bit (LSB) yang mampu menyisipkan pesan secara sekuensial dan acak. Analisis dilakukan untuk mengetahui penyisipan yang manakah yang memiliki kemampuan paling baik. Secara kuantitatif, Peak Signal to Noise Ratio (PSNR) digunakan untuk mengukur kualitas citra. Sedangkan secara visual, steganalisis Enhanced LSB dimanfaatkan untuk mengetahui teknik mana yang mampu menyisipkan pesan tanpa mudah dideteksi. Hasil percobaan menunjukkan, penyisipan secara acak memiliki kemampuan lebih baik daripada penyisipan secara sekuensial. Kata Kunci: steganografi, acak, sekuensial, PSNR, Enhanced LSB Abstract This research is aimed to analyze Least Significant Bit (LSB) steganography that able to embed message in sequence method as well as randomly. Analysis is conducted to investigate which embedding scheme has better performance. Quantitative analysis uses Peak Signal to Noise Ratio (PSNR) to measure image quality. Meanwhile Enhanced LSB steganalysis is utilized to examine which technique has higher imperceptibility. Result shows that random embedding method outperforms sequence embedding technique for both quantitative and visual means. Keywords: steganography, random, sequence, PSNR, Enhanced LSB 1. PENDAHULUAN Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet naik dari satu juta di tahun 1999 menjadi (prediksi) 12 juta di tahun 2004. Hasil survei PT Telkom Desember 2003 menunjukkan bahwa e- mail dan browsing adalah alasan utama 1.500 responden. Di antaranya 48,3 persen menggunakan internet untuk e- mail dan 35,1 persen untuk keperluan browsing [1]. Media internet dipilih karena kemudahan penggunaan dan efisiensi waktu yang diperlukan dalam pengiriman informasi. Kelemahan pengiriman informasi melalui media internet adalah pada masalah jaminan keamanan. Banyak orang mencoba mencuri informasi rahasia yang tidak menjadi haknya melalui media tersebut. Peritel AS TJX Cos, Inc. pada tahun 2006 mengumumkan pencurian 45,7 juta informasi kartu kredit dan kartu debit milik para pelanggannya. Pencurian informasi tersebut berlangsung terus-menerus selama 18 bulan dan TJX baru mengetahuinya di tahun 2007 [2]. Di Indonesia pada tahun 2001, survei AC Nielsen mencatat bahwa Indonesia berada pada posisi keenam terbesar di dunia atau keempat di Asia dalam tindak kejahatan cyber. brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Techno.Com