Journal of Pharmaceutical and Health Research Vol 2, No 2, Juni 2021, pp. 28-33 ISSN 2721-0715 (media online) DOI 10.47065/jharma.v2i2.841 Rahmawida Putri, Nuriyatul Fhatonah Copyright © 2021, JHarma |Page 28 Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Bandotan (Ageratum Conyzoides L.) Terhadap Bakteri Streptococcus Pyogenes Rahmawida Putri * , Nuriyatul Fhatonah Program Studi Farmasi, Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Tangerang Email: 1* rahmawidaputri0@gmail.com, 1 nuriyatulfhatonah0207@gmail.com AbstrakPengobatan penyakit infeksi bakteri menggunakan antibiotik semi sintetik dapat menimbulkan resistensi, sehingga untuk mengatasinya diperlukan pencarian bahan obat alami dari tanaman, salah satunya yaitu ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides L.) . Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi golongan senyawa kimia yang terkandung dalam daun bandotan dan mengetahui aktivitasnya sebagai antibakteri terhadap Streptococcus pyogenes dan Pseudomonas aeruginosa. Daun bandotan diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak diuji aktivitas antibakteri menggunakan metode sumuran dan diukur zona bening yang terbentuk menggunakan jangka sorong dan dilakukan triplo. Hasil identifikasi senyawa metabolit sekunder daun bandotan menunjukkan adanya senyawa golongan alkaloid, saponin, tanin, fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid, glikosida. Berdasarkan uji aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus pyogenes dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25% menunjukkan adanya zona bening pada konsentrasi berturut-turut dengan rata-rata sebesar 14,52 mm; 13,87 mm; 13,38 mm; 12,38 mm; 11,75 mm; 15,33 mm. Kata Kunci: Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L.); Antibakteri; Streptococcus Pyogenes; Pseudomonas Aeruginosa AbstractThe treatment of bacterial infectious diseases using a semi synthetic antibiotic can lead to resistance, so that the search is necessary to overcome it the ingredients of natural medicine from plants, one of them namely bandotan leaf extract (Ageratum conyzoides l.). This research aims to identify the chemical compounds contained in leaf bandotan and knowing his activity as antibacterial against Pseudomonas aeruginosa and s. pyogenes. The leaves are extracted in bandotan maceration using solvent ethanol 96%. The extract was tested using the method of antibacterial activity of sumuran and clear zones are measured that is formed using a caliper and triplo. The results of the identification of a compound leaf bandotan secondary metabolite showed a group of compounds alkaloids, saponins, tannins, flavonoids, phenolic, triterpenoid glycosides, steroids. Based on a test of antibacterial activity against s. pyogenes with the concentration of 100%, 50%, 25%, 12.5%, 6.25% showed a clear zone on the concentration in a row with an average of 14.52 mm; 13.87 mm; 13.38 mm; 12.38 mm; 11.75 mm; 15.33 mm. While testing the antibacterial activity against Pseudomonas aeruginosa with the same concentrations did not show the presence of antibacterial activity of extracts of leaves of bandotan with no clear zone formation. Keywords: Leaf Bandotan (Ageratum conyzoides L.); Antibacterial; Streptococcus Pyogenes; Pseudomonas Aeruginosa. 1. PENDAHULUAN Penyakit infeksi merupakan jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk di negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu penyebab penyakit infeksi adalah bakteri. Bakteri merupakan mikroorganisme yang hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop (Radji dan Manurung, 2011). Beberapa bakteri yang menyebabkan infeksi adalah Streptococcus pyogenes yang dapat menginfeksi berbagai bagian tubuh seperti faring dan kulit. Infeksi pada faring dapat menyebabkan terjadinya abses, sedangkan infeksi pada kulit dapat menyebabkan terjadinya impetigo (Brooks et al, 2013). Pseudomonas aeruginosa menyebabkan infeksi yang signifikan secara klinis seperti luka, infeksi luka bakar dan infeksi kuku (Hingkua, dkk. 2013). Pengobatan yang tidak tepat dengan obat sintetik dapat menyebabkan resistensi bakteri sehingga obat tidak mampu lagi memberikan efek yang seharusnya, dengan demikian dapat menimbulkan masalah baru. Hal ini berbeda jika pengobatan menggunakan obat herbal. Senyawa kimia yang terkandung didalamnya dapat berperan dalam memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Di samping itu penggunaan obat herbal lebih aman dibanding obat sintetik (Sidoretno & Rz. 2018; Lau, dkk. 2019). Salah satu tanaman obat yang cukup dikenal di masyarakat adalah bandotan (Ageratum conyzoides, L.). Bandotan biasa tumbuh liar dan mudah didapat di Indonesia. Beberapa kegunaan dari tumbuhan ini adalah sebagai obat luka berdarah, bisul, borok dan eksim (Wijaya & Ulfah, 2018; Mulyani, dkk. 2021). Tanaman bandotan mengandung senyawa- senyawa metabolit sekunder seperti asam amino, minyak atsiri, kumarin, β-sitosterol, tanin, dan alkaloid (Munira, dkk. 2020; Safrida & Rahmah, 2021). Tumbuhan bandotan merupakan salah satu tumbuhan yang diketahui secara empiris mempunyai khasiat sebagai bahan obat dan telah digunakan di beberapa daerah. Tumbuhan bandotan sejak dahulu telah digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat, anatara lain untuk pengoabatan luka, gangguan pencernaan dan diare. Namun, selain itu juga digunakan sebagai pengobatan radang usus, radang ginjal atau radang saluran kemih dan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri contohnya seperti bakteri E.Coli, Sterptococcus. (Yasir & Asnah, 2017). Berdasarkan penelitian (Mengkido, dkk. 2019) tentang uji daya hambat ekstrak etanol daun bandotan terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus aureus mengandung senyawa antibiotik yang dapat mempengaruhi bakteri. Hal ini disebabkan daun bandotan mengandung senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri yaitu pada kosentarsi 50% menghasilkan diameter zona hambat 22,0 mm dan pada kosentarsi 7,5% menghasilkan diameter zona hambat 9,0 mm. Sedangkan menurut penelitian (Laoli, 2018) Pada Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Bandotan Terahadap Bacteri Bacillus Substilis dan Proteus Vulgaris menunjukkan bahwa daun bandotan memberikan aktivitas sebagai antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri yaitu pada ekstrak etanol hasil diameter area jernih sebesar 14,28 mm untuk Bacillus substilis pada kosentrasi 80% dan pada Proteus Vulgaris memberikan diameter 14,41 mm pada kosentrasi 100%.