Reikha Rahmasari, Rosa Tri Hertamawati, Danu Wahyu Cahyono. Kualitas Telur Puyuh yang Beredar di Pasar Tradisional di Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember Kualitas Telur Puyuh yang Beredar di Pasar Tradisional di Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember The Quality of Quail Eggs Circulating in Traditional Markets in Kaliwates District, Jember Regency Reikha Rahmasari *1 , Rosa Tri Hertamawati, Danu Wahyu Cahyono *Program Studi Manajemen Bisnis Unggas, Jurusan Peternakan Politeknik Negeri Jember, Jl. Mastrip POX 164, Jember 1 E-mail: reikha.rahma19@polije.ac.id Abstract The purpose of this research was to analyz the quality of quail eggs circulating in the traditional market in Kaliwates district of Jember Regency. This study used experimental method with Complete Randomized Design (CRD) with five treatments and each treatment have three replications. Treatments in this study were market location: P1(Kepatihan market), P2 (Tanjung market), P3(Market Mangli), P4 (Tegal Besar market) and P5 (Pelita market). The observed parameters consist of egg weight, egg white index, egg yolk index and quail egg unit haugh. The data were analyzed by Analysis of Variance (ANOVA). The results showed that the quality of quail eggs circulating in Kaliwates district of Jember regency have same quality (no significant difference (P>0.05)) between the five traditional markets on this study and have good quality according to standard. Keywords: quail egg quality, egg yolk index, egg white index, haugh unit I. PENDAHULUAN Telur sebagai produk peternakan yang memberikan sumbangan besar bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Total produksi telur di kabupaten Jember pada tahun 2016 sebanyak 13.827.686 butir telur ayam ras, telur itik (bebek) dan telur puyuh, untuk telur puyuh sebanyak 81.955 [1]. Telur puyuh merupakan sumber protein hewani yang potensial dilihat dari nilai nutrisi yang dimilikinya. Menurut [2] setiap 100 g telur puyuh mengandung 15 g protein dan 10,20 g lemak. Nilai nutrisi tersebut tidak terlalu berbeda degan telur ayam dan itik, dengan kandungan protein dan lemaknya berturut-turut adalah 12,8 g dan 11,5 g untuk telur ayam, 13,1 g dan 14,3 g untuk telur itik. Telur puyuh memiliki sifat yang mudah rusak. Kerusakan yang sering terjadi berupa kerusakan fisik, kimia dan kerusakan yang diakibatkan oleh mikroorganisme, baik secara langsung atau tidak langsung. Cemaran mikroorganisme tersebut dapat berasal dari tanah, udara, air, debu dan kotoran puyuh. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyimpanan telur yaitu temperatur, penyimpanan, dan bau yang berada di sekitar penyimpanan telur. Telur akan mengalami perubahan kualitas seiring dengan lamanya penyimpanan, semakin lama waktu penyimpanan akan mengakibatkan terjadinya banyak penguapan cairan di dalam telur dan menyebabkan kantong udara semakin besar [3] Umar [4] , menyatakan adanya variasi karakteristik dan kualitas telur antara di peternak dan di pasar. Kualitas telur ayam ras yang beredar di setiap pasar memiliki kualitas yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh suhu, kondisi pasar dan lama penyimpanan [5]. Telur puyuh yang disimpan dari 0 sampai 8 minggu menunjukkan adanya penurunan nilai HU dari 73,72 menjadi 56,93 [6] Jarak atau pendistribusian telur puyuh yang berbeda-beda setiap pasar juga dapat mempengaruhi umur telur pada konsumen yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas telur konsumsi. Kondisi tersebut dikarenakan telur yang dikeluarkan dari 33