106 Sari Pediatri, Vol. 20, No. 2, Agustus 2018 Hubungan Faktor Sosioekonomi dengan Perawakan Pendek Anak Usia 24-60 Bulan Yogi Agustian, Kusnandi Rusmil, Purboyo Solek Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr Hasan Sadikin / Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung Latar belakang. Perawakan pendek merupakan salah satu indikator kesehatan anak yang dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya sosioekonomi. Faktor sosioekonomi di antaranya pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jumlah anak kurang dari 5 tahun, dan interval usia dengan anak sebelumnya. Tujuan. Mengetahui hubungan status sosioekonomi dengan perawakan pendek. Metode. Studi potong lintang dilakukan pada anak usia 24–60 bulan yang datang ke Puskesmas Sukajadi dan Tempat Penitipan Anak Bunda Ganesa pada bulan Mei 2018. Sampel dipilih secara proporsional random sampling. Tinggi badan anak diperiksa dan diambil data status sosioekonomi. Analisis statistik menggunakan Chi kuadrat dan analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil. Seratus tiga puluh tiga anak terdiri dari 77 anak dari Puskesmas Sukajadi dan 56 anak dari Bunda Ganesa. Prevalensi perawakan pendek di Puskesmas Sukajadi 40,3%, sedangkan di Bunda Ganesa 16,1%. Tempat penelitian, pendidikan orang tua, berat badan menurut usia, pekerjaan ayah dan pendapatan keluarga memiliki hubungan bermakna dengan perawakan pendek. Analisis multivariat ayah pendidikan menengah dan rendah, serta berat badan menurut usia yang abnormal merupakan risiko perawakan pendek. Sementara anak yang tidak mendapat ASI eksklusif berisiko lebih rendah. Kesimpulan. Prevalensi perawakan pendek lebih besar pada anak dari keluarga sosioekonomi menengah kebawah. Pendidikan ayah dan ibu, berat badan menurut usia, pekerjaan ayah dan pendapatan keluarga memiliki hubungan yang bermakna terhadap perawakan pendek. Sari Pediatri 2018;20(2):106-14 Kata kunci: perawakan pendek, sosioekonomi Relationship of Socioeconomic Factors with Stunting Children Aged 24-60 Months Yogi Agustian, Kusnandi Rusmil, Purboyo Solek Background. Stunting is one of the child’s health indicator which was infuenced by various factors including the socioeconomic condition of their parents. Children from lower socioeconomic level had a higher risk of short stature. Socioeconomic factors consist of education, occupation, income, number of children aged less than 5 years, number of family members and age interval with the previous child. Objective. To know the association between socioeconomic status and incidence of stunting Methods. Tis cross-sectional study was participated by children aged 24 – 60 months who visited Puskesmas Sukajadi and Bunda Ganesa Daycare Center during May 2018. Te sample was chosen proportionally by randomly sampling. Body height was measured and socioeconomic data was taken. Statistical analysis was done using Chi-square. P value < 0,05 was considered statistically signifcant. We also did a multivariate analysis with logistic regression. Results. One hundred thirty-three children met study criteria which consist of 77 children from Puskesmas Sukajadi and 56 children from Bunda Ganesa. Stunting prevalence from Puskesmas Sukajadi was 40,3%, while Bunda Ganesa was 16,1%. Study setting, parent’s education, weight by age, father’s occupation, and family income had a signifcant association with stunting (p < 0,05). Multivariate analysis of middle father education (OR 2,243 (0,980-5,085)), low (4,164 (1,597-10,860)), and abnormal weight by age (OR 6,649 (1,674-26,407)). Children who are not exclusively breastfed have a lower risk (OR 0.462 (0.210-1.014)). Conclusion. Stunting prevalence is higher in children of lower socioeconomic status. Parent’s education, weight by age, father’s occupation, and family income has a signifcant association with short stature Sari Pediatri 2018;20(2):106-14 Keywords: stunting, socioeconomic Alamat korespondensi: Yogi Agustian. Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUP Dr Hasan Sadikin / Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Jalan Pasteur no. 38 Bandung, Jawa Barat. dryogiagustian@gmail.com/ .