Prosiding Seminar Nasional Penelitian Pendidikan dan Penerapan MIPA Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta 14 Mei 2011 PM-205 PEMAHAMAN MAHASISWA FIELD DEPENDENT DALAM PEMECAHAN MASALAH PEMBUKTIAN Herry Agus Susanto Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo Email: herrysanto_62@yahoo.co.id Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemahaman mahasiswa field dependent dalam pemecahan masalah pembuktian pada konsep grup. Penelitian dilakukan di Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Subjek penelitian sebanyak 1 mahasiswa field dependent. Metode pengumpulan data dengan wawancara, lembar tugas. Pemahaman mahasiswa field dependent dalam memecahkan masalah pembuktian pada konsep grup sebagai berikut: (i) dalam memahami masalah, mahasiswa field dependent memberkan respon yang kurang lengkap, konsep yang diungkap hanya yang ada pada teks soal. Subjek menyebutkan data apa yang diketahui, menentukan apa yang dibuktikan. (ii) dalam merencanakan penyelesaian, subjek menggunakan definisi grup, (iii) dalam melaksanakan penyelesaian, subjek hanya melaksanakan beberapa indikator penyelesaian secara lengkap, yaitu dalam melaksanakan rencana pemecahan dilakukan secara runtut namun kurang terperinci. (iv) pengecekan kembali dilakukan pada langkah yang dilakukan dan hasil yang diperoleh. Pengecekan hasil hanya dilakukan pada sifat ketertutupan. Pada akhir pekerjaan, subjek dapat menyimpulkan hasil pekerjaanya. Penelitian masih terbatas pada pemahaman dalam pemecahan masalah pembuktian bagi mahasiswa field dependent pada konsep grup. Dapat dilanjutkan dengan kegiatan lain misalnya (1) penelitian tentang pemahaman dalam pembentukan atau konstruksi konsep, (2) digunakan sebagai dasar untuk mendesain pembelajaran yang mempertimbangkan gaya kognitif mahasiswa, (3) pemahaman dosen terhadap gaya kognitif mahasiswa, diharapkan dalam pembelajaran dapat menyesuaikan dengan karakteristik mahasiswa. Kata kunci: Pemahaman, Pemecahan Masalah Pembuktian, Gaya Kognitif PENDAHULUAN Pembuktian dalam bidang matematika merupakan suatu hal yang penting. Seperti yang dinyatakan oleh Martin (1989 : 41) bahwa konsep pembuktian sangat penting dalam pelajaran matematika. Selanjutnya Henderson dalam Martin menyatakan bahwa pemikiran pembuktian adalah salah satu gagasan penting dari matematika. Pembuktian penting disebabkan dapat meningkatkan daya kritis siswa. Seperti yang dinyatakan oleh Fawcett (dalam Hart, 1986: 2) bahwa belajar pembuktian matematika (mathematical proof) dapat meningkatkan daya kritis dan reflektif. Selanjutnya beliau berpendapat bahwa „pemikiran reflektif perlu ditingkatkan melalui pengalaman dalam menganalisis situasi yang berkaitan pembuktian. Baylis (1983: 3) dalam sebuah artikelnya menuliskan bahwa “Proof is the essence of mathematics.” Selanjutnya Driscoll dalam Hart (1986: 3) berpendapat bahwa pada suatu tingkat pembelajaran, peran pembuktian jelas, pembuktian merupakan alat mendasar untuk memperluas bidang matematika. Hasil temuan Baylis di atas ternyata lebih memantapkan pendapat Fraleigh (1966: iii) yang menyatakan bahwa rata-rata siswa sama sekali tidak tahu saat didapati dengan sekumpulan latihan yang semua berawal dengan kata buktikan atau tunjukkan. Temuan Baylis maupun Fraleigh ternyata didukung pula oleh pendapat Clement (1992: 441) bahwa: telah banyak usaha untuk memperbaiki ketrampilan pembuktian para siswa dengan mengajarkan pembuktian formal yang hampir semuanya gagal. Clement juga menyebutkan bahwa (1)