p-ISSN 2088-9321 e-ISSN 2502-5295 Volume 8, Nomor 1, Mei 2019 - 20 ANALISA POTENSI EROSI PADA DAS KRUENG LANGSA ACEH BERBASIS SIG Faiz Isma 1) , Meilandy Purwandito 2) , Muhammad Zacky Ardhyan 3) 1,2,3) Program Studi Teknik Sipil, Universitas Samudra, Meurandeh – Langsa – Aceh, Indonesia email: faizisma.ts@unsam.ac.id 1) , meilandy@unsam.ac.id 2) , zackyardhyan82@gmail.com 3) Abstract: Langsa is one of the expansion city in Aceh which growing rapidly from year to year. Kueng Langsa is the largest and longest river that crosses the city of Langsa. The watershed of Krueng Langsa has been continuously experienced environmental damage due to changes in land cover. Environmental damage affects the amount of erosion in the watershed. Kinetic energy produced by rain brings the grain of soil to the lowest land. Because transporting process of erosion affects the vegetation density and the slope of the land when passes, a study to identify the potential erosion of Krueng Langsa watershed is essensial to estimate the distribution of erosion into the Langsa estuary. This study is aimed to estimate the amount of potential erosion in the Krueng Langsa watershed using GIS. The results revealed that the distribution of erosion hazard level (TBE) in Krueng Langsa watershed has 5 TBE classes. The most dominant was in TBE class I (very light category) covering 7.393,54 ha or 31,354%, fol- lowed by class III (medium category) with 6.348,17 ha or 26,92%. Furthermore, class IV is the heavy category with an area of 5,682.22 ha or 24,097% and the last is TBE class II (light category) with an area of 2,095.88 ha or 8,888% of the total watershed area. The highest erosion rate is 910,29 tons / ha / year in the upstream sub- watershed and the lowest erosion amount is 0,45 tons / ha / year in the downstream sub-watershed. Keywords: erosion potential, erosion hazard level, and GIS Abstrak: Kota Langsa merupakan kota pemekaran di Provinsi Aceh yang berkembang sangat pesat dari tahun ke tahun. Sungai Kueng Langsa merupakan sungai terbesar dan terpanjang yang melintasi kota Langsa. Daerah Aliran Sungai (DAS) krueng Langsa terus mengalami kerusakan lingkungan akibat perubahan tutupan lahan. Kerusakan lingkungan mempengaruhi besaran erosi pada DAS dikarenakan pada saat hujan menghasilkan energi kinetik mem- bawa butiran tanah yang disalurkan menuju lahan terendah, tetapi proses pengangkutan erosi berpengaruh terhadap kerapatan vegetasi dan lereng lahan yang dilintasinya, Sehingga perlu dilakukan studi untuk melihat potensi erosi pada DAS krueng Langsa dalam memperkirakan penyaluran erosi yang masuk ke estuari kuala Langsa. Penelitian ini mempunyai tujuan khusus yaitu mengestimasi besaran potensi erosi pada DAS krueng Langsa dengan SIG. Hasil analisa menerangkan bahwa sebaran tingkat bahaya erosi (TBE) pada DAS krueng Langsa memiliki 5 kelas TBE yang paling dominan berada pada TBE kelas I kategori sangat ringan seluas 7.393,54 ha atau 31,354 %, disusul TBE kelas III ketegori sedang dengan luasan 6.348,17 ha atau 26,92 %, TBE kelas IV ketegori berat dengan luasan 5.682,22 ha atau 24,097 %, TBE kelas II kategori ringan dengan luasan 2.095,88 ha atau 8,888 % dari total luas DAS. Besaran erosi tertinggi sebesar 910,29 ton/ha/tahun berada pada sub DAS bagian hulu dan besaran erosi terendah sebesar 0,78 ton/ha/tahun berada pada sub DAS bagian hilir. Kata kunci: Potensi Erosi, Tingkat Bahaya Erosi, dan SIG 1. PENDAHULUAN Erosi yang terjadi di bumi umumnya akibat benturan air hujan dalam kategori mengkhawatirkan, (Suripin, 2002) sehingga erosi menjadi salah satu masalah serius dalam kerusakan lingkungan terhadap lahan dipermukaan bumi ini. Kerusakan tanah akibat erosi menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah dalam mendukung produkrivitas pada daerah aliran sungai (DAS). (Hasibuan, 2009). DAS Langsa merupakan bagian dari WS tamiang - langsa dimana DASnya mencakup kota langsa merupakan salah satu kota pemekaran di provinsi Aceh dimana saat ini terus mengalami perkembangan penyediaan sarana dan prasarana sebagai penunjang kegiatan perdagangan, industri dan administrasi pemerintahan. Pada dasarnya pertumbuhan jumlah manusia yang terus meningkat menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan perubahan tutupan lahan. Interaksi manusia dengan DAS akan berdampak pada kualitas ekosistem DAS menurun, khususnya pada kualitas dan kuantitas airnya.