TUHAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN Iim Fahimah Fahimah_iim@yahoo.co.id Dosen Pascasarjana IAIN Bengkulu Abstract: Te word “God” is generally used to refer to an eternal and supernatural substance. For a family of divine re- ligions, the word God itself usually refers to God, who is believed to be the most perfect, the owner of heaven and earth worshiped by humans. In Arabic, this word is equivalent to the word Rabb. According to Ibn Athir, God and Lord in a language mean the owner, ruler, regulator, coach, administrator and giver of favor. Te word Allah alone in the Qur’an is called 2697 times, while the word Rabb (Rabb, Rabbi, Rabbuna, Rabbukum, and Rabbuhu) is 839 times, while the word Ilah (Ilahuna Ilahukum Alihatun, Alihati, Alihihatuna Alihatukum) exists 147 times. Not to mention a kind of Wahid’s words, Sunday, or a sentence which denies there are allies for either in deeds or authority to establish laws or reason- ableness of worship to other than Him or other explanations which all lead to an explanation of tawhid. God and ftrah are two words that cannot be separated because ftrah is the origin of the incident, back to the origin, even said it also means God, the human being there is an element of God so wherever he is he cannot be separated from God. Keyword: God, the Qur’anic perspective. Abstrak: Kata “Tuhan” pada umumnya dipakai untuk merujuk kepada suatu zat abadi dan supranatural. Bagi rum- pun agama samawi, kata Tuhan sendiri biasanya mengacu pada Allah, yang diyakini sebagai zat yang Maha sempurna, pemilik langit dan bumi yang disembah manusia. Dalam bahasa Arab kata ini sepadan dengan kata rabb. Menurut Ibnu Atsir, Tuhan dan tuan secara bahasa diartikan pemilik, penguasa, pengatur, pembina, pengurus dan pemberi nikmat. Kata Allah saja dalam dalam Al-Qur’an disebut 2697 kali, sedangkan kata Rabb (Rabb, Rabbi, Rabbuna, rabbukum dan Rabbuhu) sebanayak 839 kali,sedangkan kata Ilah (Ilahun, Ilahi, Ilahuna Ilahukum Alihatun, Alihati, Alihihatuna Ali- hatukum) ada 147 kali. Belum lagi semacam kata Wahid, Ahad, atau kalimat yang menafkan ada sekutu baginyna baik dalam perbuatan atau wewenang menetapkan hukum atau kewajaran beribadah kepada selain-Nya atau penjelasan lain yang semuanya mengarah penjelasan tentang tauhid. Tuhan dan ftrah adalah dua kata yang tidak bisa dipisah- kan karena ftrah itu adalah asal kejadian, kembali ke asal, bahkan dikatakan juga artinya Tuhan, manusia itu pada dasarnya memang ada unsur Tuhan maka di mana pun dia berada ia tidak akan bisa lepas dengan Allah. Kata kunci: Tuhan, Persfektif alquran. 85 Vol. XII, No. 1, Juni 2019 Pendahuluan Pembahasan tentang Tuhan dan Fitrah ma- nusia itu sangat menarik, karena membicarakan sesuatu yang dicintainya tidak akan pernah bo- san dan habis untuk dibahas, hanya saja batasan batasan tentang pembahasan ini perlu digali dan diluruskan sehingga tidak ada kesalah pahaman dalam memahami dan memposisikan Tuhan dan ftrah manausia sesuai dengan inormasi AlQuran dan Hadis. Selanjutnya dalam memba-