Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.18 No.3 Tahun 2018 529 Penerapan Metode Eksperimen dapat Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Siswa Sekolah Dasar Penerapan Metode Eksperimen dapat Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Siswa Sekolah Dasar Suryani 1 SDN. No. 028/XI Tanjung, Kecamatan Hamparan Rawang, Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi 1 E-mail: suryani10111969@gmail.com ABSTRACT This study aims to improve the learning activity and learning outcomes of fifth grade student's SDN. No. 052/XI Ulu Air year 2016/2017 on natural science subjects, especially on the material properties of light through the application of experiment methods. The study was conducted from January to May 2017. The study involved 18 students of fifth grade student's SDN. No. 052/XI Ulu Air year 2016/2017. The study was conducted in two cycles and each cycle consisted of four activities namely planning, implementation, observation, and reflection. Data of learning activity was collected through observation and data of learning outcome was collected through the test. The data that have been collected is analyzed by descriptive analysis and simple statistical test. The results showed that student learning activities improved. The results also showed that the average score of students increased from 52,8 on before action applied to 65,3 in Cycle I and increased to 77,5 in Cycle II. Percentage mastery learning students also experienced an increase from 50,0% in pratindakan to 72,2% in Cycle I and increased to 88,9% in Cycle II. Thus, the experimental method can improve the learning activity and learning outcomes of fifth grade student's SDN. No. 052/XI Ulu Air year 2016/2017 on natural science subjects, especially on the material properties of light. Keywords: elementary school, experiment method, learning activity, learning outcome, science PENDAHULUAN Belajar berperan penting dalam pembentukan kualitas seorang individu. Sugiyono dan Hariyanto (2011) mengartikan belajar sebagai sebuah aktivitas untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku/sikap, dan mengukuhkan kepribadian. Salah satu mata pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa sejak Sekolah Dasar adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Mata pelajaran IPA mengajarkan siswa mengenai pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar merupakan langkah awal dalam menanamkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ilmiah pada siswa. Hasil dari proses belajar dikenal dengan istilah hasil belajar. Pengukuran dan penilaian hasil belajar pada siswa sebagai bentuk evaluasi untuk melihat capaian pembelajaran yang telah dilakukan. Hal ini dapat terjadi karena siswa merupakan subjek utama untuk menilai baik atau buruknya suatu proses pembelajaran (Irham dan Wiyani, 2013). Oleh karenanya, guru perlu melakukan pengukuran dan penilaian hasil belajar pada siswa sebagai bentuk evaluasi untuk melihat capaian pembelajaran yang telah dilakukan. Guru mencoba mengukur dan menilai hasil belajar pada siswa kelas V di SDN. No. 052/XI Ulu Air tahun pelajaran 2016/2017. Hasil pengukuran dan penilaian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA masih rendah yang ditandai dengan perolehan hasil belajar siswa yang belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) kompetensi dasar untuk mata pelajaran IPA yaitu sebesar 60,00. Hasil tes penjajakan juga memperlihatkan bahwa skor yang diperoleh siswa berada pada rentang 20,0 (skor terendah) sampai dengan 75,0 (skor tertinggi) dengan nilai rata-rata sebesar 52,80. Apabila nilai yang diperoleh setiap siswa dibandingkan dengan KKM kompetensi dasar maka diperoleh hasil bahwa hanya separuh siswa yang memenuhi KKM kompetensi dasar. Masalah ini perlu dipecahkan karena dapat menghambat tercapainya tujuan pembelajaran. Langkah awal untuk memecahkan masalah rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA adalah dengan cara menganalisis penyebab dari munculnya masalah tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran masih berpusat pada guru dan cenderung kurang melibatkan siswa secara aktif. Guru juga belum pernah menerapkan metode eksperimen. Guru hanya menerangkan pelajaran dan melakukan tanya jawab. Untuk materi pelajaran yang membutuhkan pembuktian yang