* Penulis adalah Asisten Ahli dalam Mata Kuliah Hadis dan Ilmu Hadis pada STAIN Batusangkar 33 TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA DAN NILAI EDUKASINYA (KAJIAN TAFSIR TEMATIS) Oleh: Inong Satriadi* Abstract Allah must have created universe, included mankind, with particular purposes. Among the purposes are to become His loyal servants, to represent Him as the caliph of the earth: to control and preserve nature and its entity, to be trusted by Him to manage the earth where other creatures were not able to assume such responsibility. The three purposes of creating mankind reflects high educational values. To worship is the main and the only reason for mankind to improve their faith to Allah. As a caliph of the earth, men are supposed to teach others to be come more professional in managing things and trusteeship teaches men to get closer and more responsible to Allah Kata kunci: al-ibadah, al-khalifah, al-amanah, taklif dan keimanan. PENDAHULUAN mat Islam berkeyakinan bahwa Allah SWT. adalah Wujud yang Maha Kaya (artinya Dia tidak membutuhkan terhadap sesuatu). Jika demikian mengapa manusia diciptakan? Apa tujuan dari penciptaanNya? Tidak- kah hal ini berarti bahwa Allah SWT. adalah Wujud yang melalui tujuan pen- ciptaan manusia membutuhkan atas se- suatu? Kalau seandainya tidak mem- punyai tujuan, berarti perbuatan Allah SWT tersebut adalah sia-sia? Untuk mengatasi persoalan di atas, jawabannya tidak terlepas dari dua pokok proposisi, yaitu; (1). Allah SWT. adalah Wujud yang Maha Sempurna dan tidak membutuhkan apapun dan tidak bergantung kepada siapapun. (2). Per- buatan Allah SWT tidaklah menuju kesia-siaan. Apa yang dilakukanNya pastilah memiliki tujuan, namun tujuan tersebut adalah untuk objek (makhluq) bukan bagi pelaku perbuatan (Khaliq). Allah SWT Maha Kaya dan Sempurna, tidaklah memiliki kekurang- an yang mendasari sebuah tindakan untuk mencapai tujuan. Sebagaimana ulama teologi berkata: “Sesungguhnya perbuatan Allah tidaklah didasari oleh tujuan.” Pengertiannya adalah; se- sungguhnya manfaat dan tujuan tersebut bukanlah akan kembali pada zat Allah, dikarenakan bagaimana mungkin Dia sebagai Pemilik Kesempurnaan yang Absolut menjadikan dan menutupi diri- Nya dengan kekurangan. Allah SWT menciptakan segala sesuatu baik alam maupun manusia tiada yang sia-sia, segalanya memiliki maksud dan tujuan. Sebagaimana firman Allah SWT: أﻓﺤﺴﺒﺘﻢ أﳕﺎ ﺧﻠﻘﻨﻜﻢ ﻋﺒﺜﺎ و أﻧﻜﻢ إﻟﻴﻨﺎ ﻻ ﺗﺮﺟﻌﻮن Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami men- ciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan U