KETERAMPILAN MENULIS ESSAI DALAM PEMBENTUKAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA PRODI PGMI UIN AR-RANIRY BANDA ACEH Oleh: Silvia Sandi Wisuda Lubis Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh ABSTRAK Kemampuan menulis essai merupakan kemampuan penting dan strategis bagi mahasiswa. Melalui essai memungkinkan mahasiswa memberikan kontribusi positif terhadap permasalahan- permasalahan yang terjadi di masyarakat, antara lain dengan cara menuangkan ide-ide cemerlang yang dituangkan dalam tulisan essai. Essai juga dapat menumbuhkan jiwa kritis dan kreatif pada mahasiswa tanpa menimbulkan tindakan anarkis seperti yang sering terjadi di kalangan mahasiswa ketika menyampaikan aspirasi kepada pihak-pihak lain. Tujuan berpikir kritis sebenarnya untuk menilai suatu pemikiran , menaksir nilai bahkan mengevaluasi pelaksanaan atau praktek dari suatu pemikiran dan nilai tersebut. Kadang juga berpikir kritis menghasilkan ide ide baru sehinga berpikir kritis erat hubunganya dengan berpikir kreatif. Karena ketika seseorang menghadapi suatu hal atau masalah, dalam menelaah, menganalisa atau mengkritisi hal tersebut maka diperlukan usaha berpikir kreatif untuk menentukan solusi yang tepat. Di zaman sekarang, dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang sangat pesat, permasalahan hidup sosial semakin kompleks, untuk itu diperlukan pemikiran kritis untuk menanggapi itu semua. Pada tingkat mahasiswa sebagai pembentukan berpikir kritis bisa dilakukan dengan menulis essai. Karena dengan menulis essai, mahasiswa akan diminta untuk memberikan pandangannya terhadap sebuah persoalan. Kata Kunci: Menulis Essai, Berpikir Kritis A. Pendahuluan Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang paling tinggi tingkat kesulitannya bagi pembelajar dibandingkan dengan ketiga keterampilan lainnya. Aktivitas menulis merupakan suatu bentuk manifestasi kemampuan dan keterampilan berbahasa yang paling akhir dikuasai oleh pembelajar bahasa setelah kemampuan mendengarkan, berbicara, dan membaca. Dibandingkan dengan tiga kemampuan berbahasa yang lain, kemampuan menulis lebih sulit dikuasai bahkan oleh penutur asli bahasa yang bersangkutan sekalipun. Hal ini disebabkan kemampuan menulis menghendaki penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa itu sendiri yang akan menjadi isi tulisan. Baik unsur bahasa maupun unsur isi haruslah terjalin sedemikian rupa sehingga menghasilkan tulisan yang runtut dan padu. Seperti halnya kemampuan berbicara, kemampuan menulis mengandalkan kemampuan berbahasa yang bersifat aktif dan produktif. Kedua keterampilan bahasa ini merupakan usaha