El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/usrah/index Vol.2 No.2 Juli-Desember 2019 ISSN: 2549 3132 E-ISSN: 2620-8083 Hukum Walīmah Al- ‘Urs Menurut Perspektif Ibn azm Al-Andalusī Ali Abubakar Yuhasnibar Muhamad Nur Afiffuden Bin Jufrihisham Fakultas Syari‟ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Email: muhd.afiffuden94@gmail.com Abstrak Jumhur ulama berpendapat bahwa walīmah al-„urs hukumnya sunnah mu‟akkad. Namun demikian, ada juga sebagian ulama memandang wajib, pendapat ini dipegang oleh Ibn azm al-Andalusī. Penelitian ini secara khusus menelaah pemikiran hukum Ibn azm al-Andalusī yang mengatakan hukum wajib melaksanakan walīmah al-„urs. Dalam konteks ini, Ibn Ḥazm al-Andalusī cenderung memahami dalil-dalil hadis sebagai dasar hukum perintah wajib melaksanakan walīmah al-„urs. Fokus penelitian ini adalah: Bagaimana pandangan Ibn Ḥazm tentang hukum melaksanakan walīmah al- „urs?, dan Bagaimana dalil dan metode istinbāṭ yang digunakan Ibn azm dalam menetapkan hukum walīmah al-„urs?. Dalam penelitian ini penulis mengunakan penelitian kepustakaan (library research). Dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan cara analisis normatif. Setelah melakukan analisa mendalam terhadap fokus penelitian, penulis dapat menyimpulkan menurut Ibn azm, pelaksanaan walīmah al-„urs hukumnya wajib dan disesuaikan dengan kemampuan. Dalil yang digunakan Ibn azm mengacu pada tiga riwayat hadis. Pertama hadis qawliyyah riwayat Muslim dari Yaḥyā bin Yaḥyā al-Tamīmī terkait perintah Rasulullah SAW untuk melaksanakan walīmah al-„urs walaupun hanya sekadar satu ekor kambing. Kemudian, kedua hadis fi‟liyyah riwayat Muslim dari Abī Bakr bin Abī Syaibah dan riwayat al-Bukhārī dari Muḥammad bin Yūsuf terkait Rasulullah SAW melaksanakan walīmah al-„urs. Terhadap pendapat dan dalil hukum yang digunakan Ibn azm, pola penalaran yang ia gunakan ialah cenderung pada metode istinbāṭ bayānī, yaitu melihat sisi kaidah kebahasaan pada lafaz “ ْ ِ ى ْ َ أ” dalam matan hadis riwayat Muslim بح َ ش ِ ث ْ َ ى َ ْ ِ ى ْ َ أ”. Lafaz tersebut menurut Ibn Ḥazm merupakan lafaz amar perintah yang mengandung indikasi hukum wajib. Selain itu, pola penalaran istinbāṭ bayānī juga terlihat pada saat Ibn Ḥazm memandang hadits fi‟liyyah Rasul SAW harus didukung dengan petunjuk dalil qawliyyah, sebab perbuatan Rasulullah SAW melaksanakan walīmah al-„urs tidak dapat dijadikan hujjah wajibnya walīmah al-„urs, kecuali adanya petunjuk dalil hadis lain yang memerintahkannya. Pola penalaran semacam ini mengarah pada metode istinbāṭ bayānī. Kata Kunci: Hukum, Walīmah al- ‘Urs, Ibn azm Al-Andalusī