MEMBANGUN LOYALITAS PARTISAN PKS 1 Oleh : Nurlatipah Nasir A. Latar Belakang Masalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan salah satu partai politik berbasis Islam di Indonesia. Kiprah PKS dalam politik Indonesia dimulai pada Pemilu tahun 1999. Pada saat itu PKS menggunakan nama Partai Keadilan (PK). Namun perolehan suara PK pada Tahun 1999 tidak cukup untuk memenuhi ambang batas electoral threshold yakni sebesar 2%, sementara pada Pemilu tersebut PK hanya memperoleh 1,36% suara. Oleh karena PK tidak mampu memenuhi ambang batas electoral threshold, maka PK kemudian berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) agar dapat ikut kembali menjadi partai peserta Pemilu Tahun 2004. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan salah satu partai politik Indonesia yang mampu mempertahankan perolehan suara dari satu Pemilu ke Pemilu berikutnya. Ketika partai-partai besar seperi Golkar, PDIP dan PPP terus mengalami penurunan jumlah perolehan suara dari satu Pemilu ke Pemilu berikutnya, bahkan tingkat electoral volatility partai-partai tersebut cukup tinggi, maka tidak demikian halnya dengan PKS, perolehan suara PKS mengalami kenaikan dari satu Pemilu ke Pemilu berikutnya. Jika pada Pemilu tahun 1999 PKS hanya memperoleh 1,36% suara, maka pada Pemilu tahun 2004 PKS memperoleh 7,34% suara, sementara pada Pemilu tahun 2009 PKS memperoleh 7,89% suara. Keberhasilan PKS ini menunjukkan bahwa PKS berhasil membangun loyalitas para partisannya. Hal ini seperti ditunjukkan pada Pemilihan Gubernur Jawa Barat periode 2013-2018, dimana sang incumbent, yakni Ahmad Heryawan yang merupakan kader PKS dan dipasangkan dengan artis senior Dedi Mizwar berhasil kembali memenangkan persaingan dalam pemilihan tersebut. Selain itu, dalam Pilgub Sumatera Utara, pasangan Gatot Pujo Nugroho dan Tengku Erry Nuradi yang diusung 1 Disusun untuk melengkapi Tugas Mata Kuliah Politik Intermediary, S2 JPP Fisipol UGM