Jurnal Keperawatan, Volume XI, No. 2, Oktober 2015 ISSN 1907 - 0357 [224] PENELITIAN EFEKTIVITAS PIJAT REFLEKSI TERHADAP PENGENDALIAN KADAR GLUKOSA DARAH PENDERITA DIABETES MELLITUS Musiana *, Titi Astuti *, Ratna Dewi * * Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Tanjungkarang Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1109 tahun 2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan menyebutkan terapi komplementer dapat dilaksanakan secara sinergi, terintegrasi, dan mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan. Hasil survey pendahuluan di Puskesmas Kedaton penyakit DM termasuk dalam 10 besar penyakit terbanyak dan menduduki urutan ke-4 setelah faringitis, hipertensi dan common cold dan terjadi peningkatan jumlah penderita DM dari tahun 2012 (1.131 penderita) menjadi 1.873 penderita pada tahun 2013. Hipotesis penelitian yaitu pijat refleksi efektif dalam mengendalikan kadar glukosa darah penderita DM. Manfaat penelitian adalah mengintegrasikan terapi komplementer dalam pelayanan keperawatan penderita DM. Desain penelitian menggunakan quasi eksperimen, metode pengambilan data Pre and Post Test Control Group Design. Hasil penelitian didapat rata-rata kadar glukosa darah penderita DM sebelum melakukan pijat refleksi adalah 199,76 mg/dl sedangkan pada kelompok kontrol 183,18 mg/dl. Rata-rata kadar glukosa darah penderita DM sesudah melakukan pijat refleksi adalah 159,14 mg/dl sedangkan pada kelompok kontrol 170,43 mg/dl. Hasil uji statistik, ada perbedaan kadar glukosa darah penderita DM pada kelompok intervensi dengan nilai p = 0,021 sedangkan pada kelompok kontrol tidak (nilai p = 0,400). Saran bagi Puskesmas Kedaton agar mengintegrasikan terapi komplementer khususnya pijat refleksi dalam pelayanan keperawatan penderita DM dengan mengoptimalkan sarana pijat refleksi berupa taman pijat refleksi yang sudah tersedia di puskesmas Kedaton. Kata Kunci : terapi komplementer, pijat refleksi LATAR BELAKANG DM adalah gangguan sistem endokrin yang dikarakteristikkan oleh fluktuasi kadar gula darah yang abnormal, biasanya berhubungan dengan defect produksi insulin dan metabolisme glukosa (Dunning, 2003). Menurut World Health Organization (WHO), Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah penderita Diabetes Mellitus terbesar didunia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan proporsi penduduk ≥15 tahun dengan DM adalah 6,9 persen, di Provinsi Lampung angka prevalensi DM sebesar 0,7 persen berdasarkan diagnosis dan 0,8 persen berdasarkan gejala dan diagnosis. Data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung (2011) penderita DM di Provinsi Lampung pada tahun 2011 tercatat berjumlah 26.791 orang. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2010 yang berjumlah 24.238 orang, dan tahun 2009 yang berjumlah 23.783 orang. Kasus baru penderita DM bertambah setiap tahunnya, pada tahun 2013 berdasarkan hasil surveilans terpadu penyakit berbasis rumah sakit di Propinsi Lampung terdapat 2.844 kasus baru DM yang dirawat inap, dan 4.820 kasus baru rawat jalan, jumlah ini meningkat 57,7% dibandingkan tahun sebelumnya dan diprediksi akan terus bertambah seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan gaya hidup masyarakat terutama di daerah perkotaan Bandar Lampung yang tercatat dimana 23, 8% tidak melakukan aktifitas fisik, dan 59,3% mengkonsumsi makanan/minuman manis ≥ 1 kali perhari (Laporan Riskesdas, 2013). DM merupakan penyakit tidak menular yang penatalaksanaannya secara farmakologi dan non farmakologi. Menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni, 2011) terdapat empat pilar penatalaksanaan DM yaitu edukasi, perencanaan makan (diet), latihan jasmani/aktivitas fisik serta obat-obatan. brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by e-Jurnal Poltekkes Tanjungkarang