Jurnal Geosaintek, Vol. 7 No. 3 Tahun 2021. 125-134. p-ISSN: 2460-9072, e-ISSN: 2502-3659 Artikel diterima 28 September 2021, Revisi 27 November 2021 Online 30 Desember 2021 http://dx.doi.org/10.12962/j25023659.v7i3.10950 125 IDENTIFIKASI SUNGAI BAWAH PERMUKAAN PADA DATA RESISTIVITAS 2D KONFIGURASI DIPOLE- DIPOLE DI DESA GEDOMPOL, KABUPATEN PACITAN Ayi Syaeful Bahri, Muthi’ul Padlilah * , Amien Widodo, Anik Hilyah, Singgih Purwanto, Putry Vibry Hardyani, Christopher Salim Departemen Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Sipil Perencanaan dan Kebumian, Institut Teknologi Sepuluh Nopember *Penulis Korespondensi : muthiulfadlilah23@gmail.com Abstrak. Kawasan karst Pacitan tersusun oleh batuan karbonat yang mudah larut akibat adanya proses karstifikasi. Batuan karbonat ini memiliki banyak rongga percelahan yang menjadikan drainase bawah permukaan lebih berkembang dalam bentuk aliran sungai bawah permukaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sungai bawah permukaan dari data resistivitas 2D. Penelitian dilakukan di Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan menggunakan metode geolistrik resistivitas 2D konfigurasi Dipole-Dipole. Akuisisi data dilakukan pada 3 lokasi berbeda sehingga dihasilkan 3 lintasan yaitu Dipole-1, Dipole-2, dan Dipole-3 yang memiliki panjang lintasan 230 meter. Penerapan konfigurasi Dipole- Dipole pada penelitian ini dilakukan untuk dapat mengetahui nilai resistivitas yang dihasilkan dari penampang bawah permukaan dengan target yang lebih dalam daripada konfigurasi lain, serta mampu memberdakan nilai resistivitas batuan secara kontras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anomali sungai bawah permukaan teridentifikasi pada penampang 2D di kedalaman 5 – 35 meter dengan nilai resistivitas berkisar antara 1,26 – 12,4 Ωm. Anomali ini berbentuk rongga akibat pengaruh sistem perkembangan sungai bawah permukaan yang termasuk ke dalam zona vadose. Pada zona ini, air menginfiltrasi vertikal ke dalam tanah melalui luweng dan ketika memasuki zona jenuh, air akan bergerak ke arah horizontal mengikuti celah yang semakin lama semakin melebar hingga membentuk saluran sungai bawah permukaan atau kantung air. Kata Kunci: karst, konfigurasi Dipole-Dipole, sungai bawah permukaan Abstract. The Pacitan karst area is composed of carbonate rocks that soluble easily due to the karstification process. This carbonate rock has many crevices that make subsurface drainage more developed and formed subsurface river flows. The purpose of this research is to identify subsurface rivers from 2D resistivity data. The research was conducted in Gedompol Village, Donorojo District, Pacitan Regency using the 2D resistivity geoelectrical method with Dipole-Dipole configuration. Data acquisition was carried out at 3 different locations resulting in 3 lines, namely Dipole-1, Dipole-2, and Dipole-3 with track length of 230 meters. The application of the Dipole-Dipole configuration in this research was carried out to determine the resistivity value generated from the subsurface section with a deeper target than other configurations, and to be able to distinguish rock resistivity values in contrast. The results showed that the subsurface river anomaly was identified in a 2D cross-section at depth of 5 – 35 meters with resistivity values ranging from 1.26 – 12.4 Ω.m. This anomaly is in the form of a cavity due to the influence of the subsurface river development system which is included in the vadose zone. In this zone, water infiltrates vertically into the soil through the hole and whilst it enter the saturated zone, the water will pass in a horizontal direction following the distance which is increasingly widening to form a subsurface river channel or water pocket. Keywords: karst, Dipole-Dipole configuration, subsurface river PENDAHULUAN Kawasan karst Pacitan memiliki bentang alam yang khas dan tersusun oleh batuan yang mudah larut terutama batuan karbonat yang memiliki porositas sekunder (Ford dan Williams, 2013). Kawasan karst ini termasuk ke dalam Zona Pegunungan Selatan dengan Subzona Gunung Sewu. Formasi yang menyusun daerah penelitian yaitu Formasi Wonosari (Gambar 1) yang terdiri dari batugamping terumbu, batugamping berlapis, batugamping pasiran, batugamping mengeping, dan napal. Karst ini terbentuk akibat adanya proses karstifikasi yang terjadi pada kawasan dengan bentukan morfologi baik di permukaan (eksokarst) seperti bukit-bukit tunggal dan lekuk-lekuk lembah (dolina), serta morfologi di bawah permukaan (endokarst) seperti sistem perguaan dan aliran sungai bawah tanah (Samodra, 2003). Karakteristik batuan karbonat yang memiliki rongga percelahan serta mudah terlarut di dalam air menyebabkan