Original Article 29 Volume 6, Number 1, June, (2022), pp. 29-34 ISSN 2580-2046 (Print) | ISSN 2580-2054 (Electronic) Pusat Kajian Penelitian dan Pengembangan Bimbingan dan Konseling DOI: 10.26539/teraputik.611085 Open Access | Url: https://journal.unindra.ac.id/index.php/teraputik/index Nomophobia Mahasiswa di Era Pandemi Covid-19 Yogi Damai Syaputa 1*) , Monalisa Monalisa 2 , Imalatul Khairat 3 & Ruwanda Tamarin 4 Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten *) Alamat korespondensi: Jl. Sudirman No.30, Program Studi Bimbingan Konseling Islam, Kota Serang, Banten, Indonesia; E-mail: yogi.damai@uinbanten.ac.id Article History: Received: 11/06/2022; Revised: 15/06/2022; Accepted: 22/06/2022; Published: 30/06/2022. How to cite: Syaputra,Y.,D., M.,Monalisa, Khairat, I.,& Tamarin, R. (2022). Nomophobia Mahasiswa di Era Pandemi Covid-19. Teraputik: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6(1), pp. 2934. DOI: 10.26539/teraputik.611085 This is an open access article distributed under the Creative Commons 4.0 Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. ©2022, Syaputra,Y.,D., M.,Monalisa, Khairat, I.,& Tamarin, R.(s). Abstrak: Pandemi covid-19 membuat mahasiswa lebih banyak menghabiskan harinya dengan handphone. pembelajaran jarak jauh dijadikan alasan untuk lebih banyak menggunakan handphone. tanpa disadari kondisi ini membuat mereka banyak mengalami nomophobia. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana tingkat nomophobia mahasiswa dimasa Pandemi, serta bagaimana implikasi bimbingan konseling terhadap masalah nomophobia. Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan di Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin dengan sampel sebanyak 368 mahasiswa yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan dengan nomophobia questioner (NPM-Q) versi Indonesia. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa 135 mahasiswa memiliki tingkat nomophobia pada kategori tinggi atau sebesar dan sebanyak 88 mahasiswa berada pada kategori sangat tinggi. Sebanyak 111 mahasiswa kategori sedang dan 34 mahasiswa berada pada kategori rendah. Implikasinya dalam bimbingan konseling, para penderita nomophobia dapat diberikan bimbingan untuk membantu mereka agar bisa lepas dari ketakutan dan kecanduan akan handphone melalui layanan dalam bimbingan konseling. Kata Kunci: Pandemi Covid-19, Nomophobia, Bimbingan Konseling Abstract: Covid-19 Pandemic makes students more spend time with gadgets, and distance learning becomes the reason to use gadgets without realizing this condition make them get nomophobia. the purpose of this study is to explore how is student nomophobia level in the Pandemic era, and also how is implication guidance counseling toward the nomophobia problem. This study uses a quantitative descriptive methodology. This study was conducted at Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanduddin Banten with the number sample is 368 students by using of sampling convenience technique. Collecting data uses the nomophobia questionnaire (NMP-Q) Indonesia version. The result shows that 135 students have a high category and 88 students have the highest level. 111 students have a sufficient category and 34 students have a low category. The implication of guidance counseling, all of the sufferer's nomophobia can be given guidance to help them to collapse from fearless and addiction gadgets through service in guidance counseling. Keywords: Covid 19 Pandemic, Nomophobia, Guidance Counseling Pendahuluan Pandemi Covid-19 sudah berjalan lebih dari dua tahun. Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak Covid-19. Dampak yang dirasakan adalah terjadinya berbagai perubahan pola dalam kehidupan, termasuk pola dalam pendidikan. Pendidikan yang selama ini dilaksanakan secara tatap muka, mau tidak mau harus dilakukan secara daring. Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, maka pembelajaran secara daring/jarak jauh menjadi solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan dalam proses belajar mengajar (Nafrin & Hudaidah, 2021). Pembelajaran jarak jauh ini masih belum dirasakan keefektifannya. Berdasarkan hasil penelitian Dewantara & Nurgiansah (2020) mengungkapkan bahwa pembelajaran secara daring ini tidak efektif, pernyataan ini didukung oleh bukti bahwa dari 1000 mahasiswa, 79% tidak menginginkan pembelajaran secara daring, hanya 1% saja yang menginginkan pembelajaran secara daring. Melalui pembelajaran daring ini justru memunculkan masalah baru bagi para pelajar. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa masalah baru yang dimunculkan adalah tekait dengan kuota mahasiswa selama proses daring, jaringan internet yang tidak stabil, timbulnya rasa malas dan