Maj Ked Gi Ind. Desember 2015; 1(2): 130 - 135 p-ISSN 2460-0164 e-ISSN 2442-2576 130 ARTIKEL PENELITIAN Penurunan Kadar IL-1β Makrofag Terpapar Agregat Bakteri Actinomycetemcomitans setelah Pemberian Minyak Atsiri Temu Putih Juni Handajani*, Siti Fatimah**, Ristini Asih**, dan Antinah Latif** *Bagian Biologi Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia ** Program Studi Ilmu Keperawatan Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia *Jl Denta No 1 Sekip Utara Yogyakarta, Indonesia; e-mail: junihandajani@yahoo.com ABSTRAK Kunci regulator terhadap respons infamasi diketahui melalui aktivasi interleukin-1β (IL-1β). Makrofag merupakan sel fagosit mononuklear berperan dalam sistem imun innate dan adaptif. Sitokin yang disekresikan makrofag sebagai respons terhadap patogen antara lain IL-1, IL-6, IL-12, TNF-α, dan chemokine. Minyak atsiri temu putih (Curcuma zedoaria Rosc.) diduga memiliki efek anti infamasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar IL-1β pada makrofag terekspose aggregat bakteri actinomycetemcomitans setelah pemberian minyak atsiri temu putih. Subjek penelitian adalah 10 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 2 kelompok (perlakuan dan kontrol), masing-masing kelompok terdiri atas 5 ekor. Kelompok perlakuan diberi minum minyak atsiri temu putih dosis 30,6 μl/ml dan kelompok kontrol diberi aquabides selama 14 hari. Gingiva anterior rahang bawah tikus diolesi A.actinomycetemcomitans sebanyak 100 µl dalam CMC 2% pada hari ke-7 setelah pemberian minum bahan uji dan kontrol selama 7 hari. Pada hari ke-15, tikus pada masing- masing kelompok dianestesi lalu makrofag dikoleksi dari cairan peritoneal. Kadar IL-1β makrofag diukur menggunakan ELISA kit (R&D Systems, USA), selanjutnya data dianalisis menggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan kadar IL-1β setelah perlakuan. Perbandingan kelompok perlakuan dan kontrol menunjukkan perbedaan bermakna (p < 0,05). Disimpulkan bahwa minyak atsiri temu putih kemungkinan memiliki efek anti infamasi melalui penurunan kadar IL-1β makrofag. Maj Ked Gi Ind. Desember 2015; 1(2): 130 – 135 Kata kunci: minyak atsiri temu putih (Curcuma zedoaria Rosc.), makrofag, kadar IL-1β ABSTRACT: IL-1β level of macrophage exposed to A. actinomycetemomitans decreases after administration Curcuma Zedoaria volatile oil. Activation of interleukin-1β (IL-1β) is a key regulator of the infammatory response. Macrophage is a phagocytic mononuclear cell that plays an important role in innate and adaptive immune response. The cytokine secreted by macrophages in response to pathogen are IL-1, IL-6, IL-12, TNF-α and chemokine. Curcuma zedoaria volatile oil may have anti infammation effect. The aim of this study was to investigate IL-1β level of macrophage exposed to A. actinomycetemcomitans after administration Curcuma zedoaria volatile oil. The subjects were 10 male Wistar rats, which divided into two groups (treatment and control), each group 5 rats. In the treatment group, 30,6 μl/ ml Curcuma zedoaria volatile oil was administered per oral for 14 days and the control group used aquabidest. In the 7 th days, 100 µl A. actinomycetemcomitans in CMC 2% were applied on the anterior gingival mandible for 7 days. Rats were anesthetized in the 15 th days then macrophage was collected from peritoneal. Interleukin-1β level of macrophage was measured using ELISA kit (R&D Systems, USA). Data were analyzed using t-test. The result showed IL-1β level decreased after treatment. The comparison between treatment and control was signifcant difference (p<0.05). It can be concluded that Curcuma zedoaria volatile oil may have anti infammation effect through reducing the IL-1β level of macrophage. Maj Ked Gi. Ind. Desember 2015; 1(2): 130 – 135 Keywords: Curcuma zedoaria volatile oil, macrophage, IL-1β level PENDAHULUAN Makrofag merupakan satu dari tiga tipe sel fagosit pada sistem imun dan terdistribusi secara luas pada jaringan tubuh. Sel ini memegang peranan penting pada imunitas innate dan adaptive serta diketahui sebagai bentuk mature dari monosit. Monosit beredar dalam sirkulasi dan berdiferensiasi secara terus-menerus menjadi makrofag. Sel makrofag tersebut akan menetap di jaringan (histiosit). Makrofag diketahui lebih aktif dalam melakukan fagositosis dibandingkan monosit dan lebih banyak memiliki granula dengan kandungan enzim hidrolitik. 1 Makrofag dan neutrofl merupakan garis pertahanan pertama sistem imun innate terhadap mikroorganisme dan berperan penting untuk mengontrol infeksi bakteri. 2