151 Management Style SMEs Development of Wooden Batik Centre Aryan Torrido Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Jl. Marsda Adisucipto, Yogyakarta, Indonesia aryan.torrido@uin-suka.ac.id Abstract Industrial centers are often used as places for small and medium enterprise (SMEs) development activities and sources of regional income. This includes wooden batik centers in the DIY Province, namely in Putat Village, Gunung Kidul Regency, and Sendangsari Village, Bantul Regency. However, the development activities of SMEs in industrial centers in Indonesia were not optimal, one of the reasons is the management strategy. Therefore, this article contains a comparative study of management styles of development activities, using qualitative research methods, with multiple cases. The results showed that there was a different management style of SMEs development activities in the wooden batik center, where the management style of the wooden batik center SMEs development activity in Putat Village which was applied by the management of Kopinkra Sumber Rejeki Makmur as a center development institution was authoritarian, so the management system tends to be closed. In contrast to the management style of SMEs development activities in the wooden batik center in Sendangsari Village, which is applied by the Sido Katon Cooperative management as a development center institution assisted by the Pokdarwis Institute and BPDW Krebet Binangun, it is democratic, so the management system tends to be open. Keywords: Management Style, SMEs Development, Wood Batik Center PENDAHULUAN Hasil kajian Kementerian Koperasi dan UKM (Hs, 2008) pada sentra pangan di Indonesia, penelitian sentra kain tenun di Jawa Timur (Muchson, 2016), dan kajian sentra batik kain (Chanifiyah, 2020), menyimpulkan bahwa kebanyakan pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) sentra industri di Indonesia belum banyak yang dapat menciptakan efisiensi kolektif, salah satu penyebabnya adalah tidak optimalnya lembaga center di sentra industri dalam pengelolaan kegiatan- kegiatan pengembangan. Walaupun ketiga penelitian ini tidak mengkaji gaya kepemimpinan, namun permasalahan kelembagaan tidak bisa dilepaskan dari hal tersebut. Padahal peran pengelolaan pengembangan UKM oleh lembaga center disosialisasikan oleh pemerintah sebagai salah satu dalam tiga faktor pendukung keberhasilan pengembangan UKM sentra industri yang telah terbukti berhasil didunia, yaitu: (1) elemen yang ‘lunak’ seperti jaringan dan pengembangan, (2) elemen ‘keras’ seperti infrastruktur fisik, serta (3) elemen yang tidak terlihat seperti kepemimpinan dan budaya kewirausahaan (Syamsuadi et al., 2020). Dimana pengelolaan pengembangan UKM sentra industri dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh lembaga center sentra, bahkan penumbuhkembangan jaringan dan budaya kewirausahaan dipengaruhi gaya kepemimpinan dalam melakukan pengelolaan kegiatan lembaganya. Dapat dikatakan bahwa keberhasilan pengembangan UKM di sentra industri dipengaruhi adanya sistem kelembagaan (gaya pemimpin dan aturan) yang dapat memberdayakan serta memunculkan kepercayaan anggota pada kegiatan- kegiatan pengembangan yang dilakukan oleh lembaganya. Permasalahan pengelolaan pada pengembangan UKM terjadi di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), wilayah yang memiliki sentra industri pada lima jenis usaha, dan termasuk salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki banyak pelaku industri ekonomi kreatif terutama pada bidang fashion, kerajinan, dan IT Vol. 10, No. 2, 2022: 151-159