Jurnal Biota Vol. 4 No.2 Edisi Agustus 2018 | 73 KONSENTRASI HAMBAT MINIMUM FRAKSI BIOAKTIF RIMPANG TEMULAWAK TERHADAP JAMUR Candida albicans Dewi Novianti 1* , Trimin Kartika 2 12 Prodi Biologi Fakultas MIPA Universitas PGRI Palembang *email: dewinovianti1980@gmail.com ABSTRACT Candida albicans is a microbiota in the human body that is opportunistic. The infection caused by C.albicans is called candidiasis. People in some areas in Indonesia take advantage of rhizome temulawak for the traditional treatment of various diseases such as whiteness. The objective of the study was to determine the Minimum Barrier Concentration of active fraction of methanol extract of temulawak rhizome on Candida albicans. The ginger rhizomes were extracted in stages using soxhlet, then fractionation was done using Liquid Chromatography (KCV) method after the active fraction was then determined the minimum inhibitory concentration of the active fraction against C.albicans. The result showed that the minimum inhibitory concentration of the active fraction of temulawak rhizome was 62,5 μg / ml to C.albicans. The KHM value of 125 μg/ml is included in a very strong antifungal activity meaning that the temulawak rhizome has good potential to be a phytopharmaca. Keywords: Temulawak; Candida albicans; Minimum Barrier Concentration. PENDAHULUAN Jamur Candida albicans merupakan mikroflora normal tubuh manusia yang terdapat pada saluran pencernaan, pernafasan, dan terutama pada saluran genital epitalium wanita. Jamur ini bersifat dimorfik, tumbuh baik pada pH antara 4,5 sampai 6,5 dalam kondisi aerob maupun an-aerob. Pada sediaan apus eksudat, jamur ini tampak sebagai ragi lonjong, kecil, berdinding tipis, bertunas, berukuran 2-3 x 4-6 μm, membentuk pseudohifa maupun hifa, reproduksi umumnya dengan budding. Pada me- dia agar sabouroud yang diinkubasi pada suhu kamar selama 24 jam akan menghasilkan koloni- koloni halus berwarna krem yang mempunyai bau seperti ragi (Simatupang, 2009). Jamur C. albicans tidak bersifat patogen tetapi jika terdapat faktor predisposisi baik endo- gen maupun eksogen maka jamur ini berubah menjadi patogen. Faktor endogen berupa perubahan fisiologik kadar hormonal seperti pada kehamilan, obesitas, endokrinopati, penyakit kronik, usia dan imunologik. Faktor eksogen berupa kelembaban, penggunaan antibiotik, kontak dengan pasien, dan personal hygiene. Secara umum penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur C. albicans disebut kandidiasis. Contoh penyakit kandidiasis adalah keputihan dan sariawan (Desmawati, 2015). Angka kejadian infeksi kandidiasis tertinggi sekitar 75% adalah pada pasien yang menggunakan pembersih vagi- nal dan kebersihan dirinya kurang, 71% pada penggunaan antibiotik peroral, 71% pasien yang mempunyai riwayat diabetes mellitus, dan 63% pasien yang mempunyai riwayat lepuh (Mahmood, 2010). Indonesia adalah negara yang banyak ditumbuhi berbagai jenis tanaman herbal. Potensi obat herbal atau obat-obatan yang berasal dari tumbuhan di Indonesia sangat besar yang jumlahnya sekitar 7500 jenis. Namun potensi ini masih kurang dimaksimalkan karena masih terbatasnya penelitian ilmiah di bidang tumbuhan herbal ini. Masyarakat sekarang ini mempunyai kecenderungan mulai beralih untuk memakai tanaman herbal sebagai pengganti obat yang berasal dari bahan kimia karena selain lebih terjangkau, banyak yang meyakini efek samping dari obat-obatan herbal lebih sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Penggunaan senyawa antijamur dalam dunia kesehatan adalah sebagai bahan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur patogen. Penggunaan antibiotik yang berlebihan