26 HUBUNGAN KEBIASAN SARAPAN PAGI DENGAN KONSENTRASI PADA REMAJA Rafika 1 , Puji Astuty 2 , Susana Setyowati 3 Program Studi Kebidanan Akademi Kebidanan Wira Husada Nusantara ABSTRAKSI Sarapan pagi merupakan makanan yang dimakan setiap pagi hari atau suatu kegiatan yang penting dilakukan sebelum mengisi aktivitas yang lain setiap hari. Sarapan dibutuhkan untuk mengisi lambung yang telah kosong selama 8-10 jam dan bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan konsentrasi belajar dan kemampuan fisik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan pagi dengan konsentrasi remaja. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan pendekatan cross sectional. Variabel independent adalah kebiasaan sarapan pagi, variabel dependent adalah konsentrasi pada remaja. Populasi dalam penelitian ini adalah 165 mahasisawa. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 remaja yang melakukan sarapan pagi. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah purprosive sampling dan menggunakan perhitungan regresi linear sederhana. Hasil dari penelitian ini bahwa nilai ℎ (2,858) > 0,05 (2,024), artinya ada hubungan yang signitifkan antara hubungan kebiasaan sarapan pagi dengan konsentrasi remaja. Kata Kunci: kebiasaan sarapan, konsentrasi Remaja. PENDAHULUAN Berbagai upaya dilakukan oleh remaja untuk menurunkan berat badan atau mempertahankan status gizi, salah satunya dengan melewatkan sarapan Berkebalikan dengan persepsi remaja pada umumnya, penelitian menunjukkan kebiasaan melewatkan sarapan justru memiliki risiko terhadap overweight dan obesitas yang lebih tinggi (Rampersaud et al. 2005). Survei di lima kota besar menunjukkan, 17% orang dewasa tak sarapan, dan 13% tidak sarapan setiap hari. Angka tidak sarapan pada anak-anak bervariasi dari 17% di Jakarta, hingga 59% di Yogyakarta (Hardinsyah & Aries 2012). Menurut Badan Pusat Statik (BPS) tahun 2006 dikabupaten Majalengka hanya 15,2% remaja yang mempunyai kebiasaan sarapan pagi. Penelitian Sibuea pada tahun 2002 menemukan 57,5% anak remaja di medan tidak pernah sarapan pagi. Sedangkan penelitian Kurniasari tahun 2005 di Yogyakarta, menemukan sebesar 25% remaja jarang melakukan sarapan pagi (Wiyono,2008).Jenis hidangan untuk sarapan pagi bisa dipilih dan disusun sesuai keadaan. Namun akan lebih baik bila terdiri dari makanan sumber zat tenaga, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur. Belajar merupakan rangkaian proses berfikir, mengingat, memecahkan masalah, dan sekaligus merupakan proses pengambilan keputusan (Skiner,1999). Belajar merupakan kunci dalam pembentukan tingkah laku. Perubahan tingkah laku hasil dari pengalaman dan latihan ini bersifat relatif permanen. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah kondisi fisik dan mental, ingatan dan berpikir, intelegensi, cara belajar, sarana, dan prasarana, efesiensi waktu, budaya, motivasi, dan minat (Widayatun,1999). Sedangkan dalam belajar membutuhkan konsentrasi. Konsentrasi bisa dimaksimalkan jika tubuh mempunyai pasokan energi yang cukup untuk di otak adalah nutrisi yang didapatkan saat sarapan. Karena makanan yang diasup dipagi hari bertugas mendongkrak kadar gula darah. Sedangkan gulah darah merupakan sumber utama energi otak dan sel darah. Oleh karena itu sarapan berfungsi untuk memulihkan cadangan energi dan kadar brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Jurnal Universitas Tribhwuana Tunggadewi