Ajeng Fadila Aprilina Analisis Usability Pada Aplikasi Analisis Usability Pada Aplikasi ALINGKA Menggunakan Metode Cognitive Walkthrough Ajeng Fadila Aprilina 1 , Muhamad Azrino Gustalika 2 1,2 Jl. DI Panjaitan No.128, Karangreja, Purwokerto Kidul, Kec. Purwokerto Sel., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53147 INFORMASI ARTIKEL ABSTRACT Sejarah Artikel: Diterima Redaksi: 13 Februari 2023 Revisi Akhir: 23 Februari 2023 Diterbitkan Online: 10 Maret 2023 Current developments the mission to achieve innovation through the use of technology. This technology makes interactions between government and citizens more accessible. Technological life forced Baubau City to create ALINGKA software that can help people in emergency situations. The success of your software can be determined by usability testing. Though, this application has not been tested. Usability testing is to find out how far the ALINGKA application can run properly. The goal is to find the results of applying ALINGKA with the cognitive walkthrough method, and provide recommendations for improvement. Respondent data was collected by questionnaire. Respondents in this study were the people of Wolio District, Baubau City who were obtained according to the Taro Yamane formula, then filtered using purposive sampling according to predetermined criteria so that 15 specific respondents were obtained. Obtained by calculating the success rate of 84% which is the average success rate of the respondent's work situation. Respondents spent time working on task scenarios which were calculated using the time to complete the task at a rate of 0.118 goals/second. Calculations from this study show that from a usability point of view the ALINGKA application there are still many application menus that need to be updated. KATA KUNCI Usabilty Testing Usability Cognitive Walkthrough E-Government Aplikasi mobile KORESPONDENSI E-mail: azrino@ittelkom-pwt.ac.id 1. PENDAHULUAN Secara geografi, wilayah Indonesia mungkin rawan bencana. Lempeng Benua Asia, Lempeng Benua Australia, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik semuanya bertemu pada pertemuan empat lempeng tektonik di Indonesia, sebuah negara kepulauan. Dari pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi hingga bagian selatan dan timur Indonesia, terdapat jalur vulkanik (volcanic arc) dengan pegunungan vulkanik tua di sisinya dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa. Selain itu, Indonesia terletak di titik pertemuan tiga lempeng tektonik. Tepatnya Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia. Rangkaian Gunung Api Indonesia merupakan kumpulan dari sekitar 140 gunung berapi aktif di Indonesia. Kondisi ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap bencana alam seperti angin puting beliung, gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan letusan gunung berapi. Di Indonesia, bencana alam sepertinya bisa terjadi kapan saja. Di Indonesia, jika bukan di seluruh dunia, bencana alam muncul menjadi berita setiap hari. Telah banyak terjadi bencana alam dan ulah manusia yang mengakibatkan kerugian moral dan material yang signifikan [1]. Letak Kota Baubau antara 5°21' dan 5°30' Lintang Selatan dan antara 122°30' dan 122°45' Bujur Timur menempatkannya di daerah tropis. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan daerah rawan bencana, baik alam maupun buatan manusia. Kota Baubau memiliki ciri fisik yang beragam seiring perkembangannya. Akibat perilaku manusia dan kondisi darurat yang kompleks, keragaman penduduk dan budaya setempat juga dapat memicu kondisi alam dan iklim tersebut sehingga meningkatkan risiko bencana alam [2]. Tidak mungkin untuk memprediksi terjadinya berbagai bencana. Masyarakat diharapkan memahami, mengetahui, dan mengenal pentingnya tanggap bencana. Ini akan mendidik tentang kesiapsiagaan darurat, kewaspadaan, dan respon cepat [3]. Pemerintah pada dasarnya adalah pelayan masyarakat; namun juga mampu melayani masyarakat dan mengembangkan kemampuan di bidang pelayanan elektronik (e-service), serta menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakat [4]. Pemerintah memodifikasi cara berinteraksi