Sebaran dan Karakter Morfologi Rayap Tanah Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan 1(1): 27-33 (2008) 27 SEBARAN DAN KARAKTER MORFOLOGI RAYAP TANAH Macrotermes gilvus Hagen DI HABITAT HUTAN ALAM (Distribution and Morphology Characteristic of Macrotermes gilvus Hagen in The Natural Habitat) Niken SUBEKTI 1 , Dedy DURYADI 2 , Dodi NANDIKA 3 , Surjono SURJOKUSUMO 4 , Syaiful ANWAR 5 ABSTRACT Subterranean termite, Macrotermes, play important role on plant nutritive cycles through disintegration and decomposition of organic matter processes. In the other hand, subterranean termite can cause wooden damage in the nature and human dormitory as well. Therefore, Macrotermes are potential pest and need to be controlled. Effective pest-control of subterranean termite can be made when their species status and distribution are well known. This research is aimed to identify the status of species and the dispersal of Macrotermes at their natural habitat in order to explore natural bio-resources richness and as an effort towards effective pest-control due to increasing risk of attack. Survey method was used termite samples were collected at four different locations which are defined by global positioning system (GPS). Nest classification is according to Meyer et al. (2003). The nest mapping is based on the elevations of their natural habitat in Gunung Halimun Salak National Park (900-1000 asl), and (600-700 asl), Yanlappa sanctuary (200-300 asl), and Ujung Kulon Nasional Park (0-100 asl). Phylogenetic relationships analysis showed that subterranean termite Macrotermes in the natural forest community are belongs to one big group Macrotermes gilvus Hagen. Based on nest size, the colony of Macrotermes can be classified into three different sizes: large, medium, and small nest. Large and medium nest can be found in large amount in Yanlappa sanctuary (15 and 23 colonies, respectively) and the majority of small nest occurred in Gunung Halimun Salak National Park at 900 asl (78 colonies). Temperature and humidity is the most environmental factor that can influence on termite and other factor is rain fall, soil structure, and plant vegetation. Keywords: Distribution, identify, Macrotermes gilvus Hagen, nest 1) Jurusan Biologi FMIPA,Universitas Negeri Semarang 2) Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor 3),4) Departemen Hasil Hutan,Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor 5) Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan,Institut Pertanian Bogor PENDAHULUAN Rayap merupakan bagian yang sangat penting di dalam daur ulang nutrisi tanaman melalui proses disintegrasi dan dekomposisi material organik dari kayu dan serasah tanaman. Namun demikian, rayap seringkali juga merusak kayu sebagai bagian dari konstruksi bangunan dan material berselulosa lainnya di dalam bangunan gedung atau menyerang pohon dan tanaman hidup sehingga menjadi hama yang potensial, terutama di areal perkebunan kelapa sawit, karet dan tanaman hutan industri seperti pinus, eukaliptus, dan lain-lain. Serangan rayap pada bangunan gedung pada saat ini merupakan masalah yang sangat besar mengingat intensitas serangannya yang semakin tinggi dan meluas sehingga nilai kerugian akibat serangan rayap cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Bangunan fasilitas sosial seperti bangunan sekolah dan gedung perkantoran, serta rumah-rumah tinggal banyak yang mengalami kerusakan atau bahkan roboh akibat serangan rayap. Berdasarkan perkiraan, kerugian ekonomis yang ditimbulkan akibat serangan rayap di Indonesia mencapai 1,67 trilyun rupiah (Rahmawati 1995). Nilai kerugian ekonomis tersebut tentunya sangat berarti di tengah-tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit Bangsa Indonesia saat ini. Kenyataan menunjukkan pula bahwa hampir di seluruh daerah tropika dan subtropika, rayap (Ordo: Isoptera) telah dikenal sebagai hama yang banyak menimbulkan kerusakan pada berbagai tanaman dan hasil hutan. Kemampuan merusak dari serangga tersebut ada hubungannya dengan populasinya yang sangat tinggi, daya jelajah yang luas serta daya adaptasi terhadap lingkungan yang cukup baik. Dengan demikian dapatlah dimengerti mengapa rayap merupakan serangga perusak yang luas penyebarannya dan besar dampak ekonominya. Sebagai contoh di Amerika Serikat dan Asia kerugian akibat serangan rayap lebih dari $ 1 milyar per tahun, sedangkan di Australia lebih dari $ 100 juta setiap tahun (UNEP 2000). Hasil penelitian selama ini menunjukkan bahwa beberapa jenis rayap yang mampu menyebabkan kerusakan yang berarti pada bangunan gedung, adalah rayap dari genus Coptotermes dan Macrotermes (Nandika et al. 2003). Berbagai penelitian mengenai rayap dari genus Coptotermes beserta potensi kerusakannya di Indonesia sudah banyak