AGRIPTEK : Jurnal Agribisnis dan Peternakan Vol..1 No. 2, Agustus 2021 : 51-59 ISSN 2776-8600 (Online) AGRIPTEK | 51 PENINGKATAN BOBOT BADAN AYAM BURAS LOKAL CIANJUR MELALUI PERKAWINAN SILANG DAN SELEKSI BOBOT TETAS DI TINGKAT KELOMPOK TERNAK AYAM “PUSAKA” Yadi Mulyadi 1* Yuni Mariani 2 1 Kompetensi Keahlian Agribisnis Ternak Unggas, SMK Negeri 2 Cilaku, Cianjur, Jawa Barat, Indonesia 2 Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, Mataram, Indonesia *Email : yadhie1972@gmail.com Diterima: 12 Mei 2021. Disetujui: 19 Juli 2021. Dipublikasikan: 28 Agustus 2021 ABSTRAK Persilangan ayam buras dengan ayam pelung diharapkan mampu meningkatkan produksi daging dan efesiensi dalam penggunaan ransum, karena ayam pelung memiliki pertumbuhan bobot badan lebih baik dibanding ayam buras lainnya. Tujuan penelitian untuk mendapatkan bibit ayam buras yang memiliki kemampuan memproduksi daging yang baik sebagai ayam buras penghasil daging. Ternak yang digunakan dalam kegiatan yaitu induk betina ayam buras lokal Cianjur sebanyak 100 ekor berumur 6-8 bulan dan 20 ekor pejantan pelung berumur 9 – 12 bulan, sistem perkawinan cross breeding secara alami dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 5. Kriteria seleksi dilakukan pada bobot tetas melalui seleksi individu selama tiga generasi. Rataan bobot tetas hasil persilangan ayam buras dengan pelung yang diseleksi terarah ternyata meningkat sebesar 5,39 gram/ekor atau 1,79 gram/ekor/generasi dari G0 ke G3, sedangkan peningkatan dari bobot tetas ayam buras yaitu sebesar 7,65 gram/ekor atau 2,25 gram/ekor/generasi. Rataan respon seleksi dari kriteria bobot tetas yaitu sebesar 1,24 gram/generasi, artinya perbaikan mutu genetik ternak ayam buras melaui seleksi bobot tetas mampu meningkatkan pertumbuhan bobot badan (produksi daging). Kata Kunci : Bobot Tetas, Perkawinan Silang, Seleksi, Ayam Buras ABSTRACT Crossbreeding native chicken with chicken pelung expected to increase meat production and efficiency in the use of rations, because the chicken's body weight pelung have better growth than any other domestic poultry. Research objectives were to obtain seed free-range chicken that has the ability to produce good meat as free-range chicken meat producer. Animals used in female parent activities, namely the local free-range chicken Cianjur as much as 100 individuals aged 6-8 months and 20 head pelung males aged 9-12 months, mating systems are naturally cross- breeding males and females with a ratio of 1: 5. Criteria of selection performed on the weight of hatching through the selection of individuals for three generations. The average weight range chicken hatching from crosses with the selected directional pelung was increased by 5.39 g / fish or 1.79 grams / head / generation from G0 to G3, while the increase of domestic poultry hatching weight that is equal to 7.65 g / fish or 2.25 grams / head / generation. Average response of selection criteria hatching weight that is equal to 1.24 g / generation, meaning that the genetic improvement of livestock quality through selection of free-range chicken hatching weights can increase the growth of body weight gain (meat production).. Keywords: Weight of Hatching, Cross Breeding, Selection, Native Chicken PENDAHULUAN Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk, maka kebutuhan manusia akan konsumsi bahan pangan semakin meningkat. Peternakan sebagai salah satu sub sistem dalam bidang pertanian memiliki peranan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan manusia tersebut, karena peternakan mampu memenuhi kebutuhan pangan manusia yang memiliki nilai gizi tinggi berupa protein hewani dalam bentuk daging, telur dan susu. Ilmu pemuliaan ternak memiliki peranan yang cukup strategis untuk meningkatkan populasi ternak dan mutu genetik ternak, karena tanpa proses seleksi dan perkawinan silang dalam proses pemuliaan ternak tujuan dalam meningkatkan populasi ternak dan mutu genetik ternak termasuk produktivitas ternak rasanya sulit bisa terwujud (Soedito, Adjisoedarmo., 2003). Penelitian pemuliaan ternak yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas ternak lokal, sedang dan terus dilakukan oleh para peneliti. Pengembangan ayam lokal Indonesia (ayam buras) perlu ditingkatkan agar terjadi diversifikasi usaha perunggasan, mengingat komoditas lokal ini mempunyai potensi sebagai pemasok sumber protein hewani cukup besar (Suthama, 2006).