Prosiding Seminar Teknologi dan Agribisnis Peternakan VI: Pengembangan Sumber Daya Genetik Ternak Lokal Menuju Swasembada Pangan Hewani ASUH, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedriman, 7 Juli 2018 205 PERBEDAAN PRODUKSI DAN KUALITAS TELUR ITIK TEGAL DAN ITIK MAGELANG DI TINGKAT PETERNAK Ibnu Hari Sulistyawan*, Ismoyowati, dan Diana Indrasanti Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman – Purwokerto *Corresponding author email: Ibnusulistyawan17@gmail.com Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan perbedaan produksi dan kualitas telur itik Tegal dan itik Magelang di tingkat peternak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan sampel secara stratified random sampling dan pengamatan kualitas telur dilakukan di Laboratorium Unggas Unsoed. Analisis data menggunakan uji T. Penelitian dilakukan dengan metode survei dengan pengambilan sampel secara purposive random sampling berdasarkan populasi itik yang dimiliki oleh peternak dan umur itik (8-15 bulan). Setiap wilayah diambil 10 sampel peternakan itik, dan setiap peternak diambil sampel telur 20 butir telur, sehingga total sampel telur sebanyak 400 butir. Peubah yang diukur adalah produksi dan kualitas telur itik. Hasil penelitian menunjukkan produksi telur itik Tegal lebih rendah dibandingkan itik Magelang (64,89 vs 75,44%), namun bobot telur relatif sama. Kualitas telur itik menunjukkan specific gravity, warna kuning telur dan haugh unit relative sama, kecuali ketebalan kerabang itik Magelang lebih tinggi dibandingkan itik Tegal. Dapat disimpulkan bahwa itik Magelang menghasilkan produksi telur lebih tinggi dibandingkan dengan itik Tegal. Kualitas telur itik relatif sama kecuali tebal kerabang telur itik Magelang lebih tinggi dibandingkan telur itik Tegal. Kata Kunci: Itik Tegal, Itik Magelang, Produksi telur, Kualitas telur. PENDAHULUAN Itik lokal merupakan plasma nutfah yang memiliki mutu genetik unggul dan berpotensi sebagai penghasil telur. Itik lokal memiliki kelebihan dibandingkan dengan unggas lainnya yaitu mampu mempertahankan produksi telur yang lebih lama dibandingkan ayam, tingkat kematiannya rendah, tahan terhadap penyakit, dan dapat berproduksi dengan baik pada pakan berkualitas rendah (Alfiyah, 2015). Itik sebagai unggas lokal mempunyai peran penting sebagai sumber protein hewani maupun sumber pendapatan masyarakat. Indonesia memiliki berbagai macam itik lokal, diantaranya itik Tegal dan itik Magelang yang tersebar sebagian besar di Provinsi Jawa Tengah. Itik Tegal merupakan bangsa itik asli Indonesia yang berasal dari Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ciri–ciri fisik itik Tegal yaitu kepala kecil, leher langsing panjang dan bulat, sayap menempel erat pada badan, ujung bulunya menutup diatas ekor, dan menghasilkan telur 200-250 butir/ tahun (Susanti dan Prasetyo, dalam Subiharta., dkk. 2013). Itik Magelang merupakan itik asli Kabupaten Magelang yang masuk dalam jenis itik lokal Indonesia. Ciri-ciri itik Magelang secara umum yaitu warna bulu kombinasi (coklat, putih, dan hitam), tubuh tegak, paruh dan kaki berwarna hitam, dan menghasilkan telur 130-170 butir/ tahun (Wulandari., dkk. 2015). Peningkatan kebutuhan protein hewani dan produksi telur itik di Indonesia membuat konsumen semakin sadar akan pentingnya kualitas telur yang dikonsumsi. Oleh karena itu perlu dilakukan uji kualitas telur dengan cara mengukur ketebalan kerabang, rasio kuning dan putih telur, specific gravity, warna kuning telur, dan haugh unit (HU). Pengukuran kualitas telur itik Tegal dan Magelang pada galur itik dan kondisi lingkungan pemeliharaan yang berbeda dilakukan untuk memperoleh informasi dan membandingkan kualitas telur (ketebalan kerabang, rasio kuning dan putih telur, specific gravity, warna kuning telur dan haugh unit (HU) itik Tegal (Kota Tegal) dan itik Magelang (Kabupaten Magelang) di tingkat peternak.