116 PINDAH DAN MENETAP: SUATU PEMAHAMAN TEOLOGIS TENTANG MIGRASI KORBAN BENCANA ERUPSI GUNUNG SINABUNG William Wahyu Sembiring STFT Jakarta william.sembiring@stftjakarta.ac.id ABSTRAK Migrasi sebagai sebuah fenomena yang sudah terjadi di berbagai tempat sejak ribuan tahun lalu, bahkan hingga hari ini. Mulai dari migrasi bangsa Israel yang terjadi ribuan tahun silam, hingga migrasi para korban bencana, salah satunya korban bencana erupsi Gunung Sinabung. Artikel ini bertujuan untuk menemukan sekaligus memberikan pesan teologis yang bersifat pastoral bagi para korban bencana erupsi Gunung Sinabung yang sekarang sudah menjadi migran. Penelitian menggunakan studi kepustakaan dalam terang data-data kualitatif, dengan memperhatikan beberapa sumber penelitian lapangan yang sudah dilakukan terlebih dahulu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Allah juga turut menderita, merasakan serta bermigrasi bersama para migran korban erupsi Gunung Sinabung serta menciptakan pemahaman baru tentang diri mereka sebagai migran di tanah yang baru. Kata-kata kunci: Erupsi, Gunung Sinabung, Migran, Migrasi, Suku Karo ABSTRACT Migration as a phenomenon has occurred in various places since thousands of years ago, even today. Starting from the migration of the Israelites that occurred thousands of years ago, to the migration of disaster victims, one of whom was the victim of the Mount Sinabung eruption. This article aims to find and provide pastoral theological messages for the victims of the Mount Sinabung eruption who are now migrants. This research uses literature study in the light of qualitative data, considering several sources of field research that have been done beforehand. The results of this study show that Allah also suffers, feels, and migrates with the migrant victims of the Mount Sinabung eruption and creates a new understanding of themselves as migrants in a new land. Keywords: Eruption, Mount Sinabung, Migrant, Migration, Karonese I. PENDAHULUAN Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan migrasi sebagai perpindahan penduduk dari satu tempat (negara dan sebagainya) ke tempat (negara dan sebagainya) lain untuk menetap (KBBI website 2017). Dalam dua dekade terakhir setidaknya ada 200 juta orang yang berpindah, jumlah tersebut diperkirakan sebesar 3% dari jumlah seluruh penduduk bumi. Hal itu berarti satu dari 35 orang di bumi tinggal jauh dari tanah asal mereka (Nguyen, 2014: 159). Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 4, No 2, Juli 2023