Identifikasi Bentang Alam Karst Untuk Penentuan Kawasan Konservasi...(Singgih Irianto, Solihin, & Zaenun Nasihin) 47 IDENTIFIKASI BENTANG ALAM KARST UNTUK PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI DAN BUDIDAYA DAERAH CIBARANI DAN SEKITARNYA, KECAMATAN CIRINTEUN, KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN Oleh : Singgih Irianto 1) , Solihin 2) , Zaenun Nasihin 3) ABSTRAK Klasifikasi kawasan bentangalam karst untuk kawasan konservasi dan budidaya daerah cibarani, yang secara administratif daerah penelitian termasuk kedalam Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Secara geografis daerah penelitian terletak pada 106° 15’ 13” BT - 106° 22’ 14” BT dan 06° 64’ 16” LS - 06° 71’ 38” LS. Daerah Sareweh Kecamatan Cirinten Lebak Banten terdapat sebaran batugamping yang membentuk suatu morfologi khas yang dikenal sebagai karst. Fenomena karst yang dijumpai antara lain gua, ornamen gua, jaringan sungai bawah tanah serta bukit karst. Permukaan karst pada kawasan ini secara fisik memperlihatkan kondisi gersang namun pada bagian bawah permukaan terdapat sumber air yang melimpah yang mensuplai desa di dataran rendah untuk kebutuhan sehari - hari seperti air minum, dan pertanian. Bentang Alam Karst daerah penelitian dibagi kedalam 3 (tiga) kelas, yaitu : Kawasan Karst Kelas I, Kawasan Karst Kelas II dan Kawasan Karst Kelas III. Kawasan Karst Kelas I dan Kelas II termasuk kedalam kawasan konservasi sedangkan Kawasan Karst Kelas III termasuk kedalam kawasan budi daya. Kata Kunci : Cibaranim, Klasifikasi, Morfologi, Karst. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kurang lebih 25% permukaan bumi merupakan kawasan karst, sehingga 25% kehidupan dunia pun tergantung pada kawasan ini (Samodra, 2001). Kawasan karst di Indonesia mencakup luas sekitar 15,4 juta hektar dan tersebar hampir di seluruh Indonesia (Candra, 2011), Salah satu penyebaran cukup luas adalah di wilayah P.,Jawa, dan di jawa Barat bagian selatan cukup banyak di jumpai morfologi kars. Perbukitan di Daerah Sareweh Kecamatan Cirinten Lebak Banten terdapat sebaran batugamping yang membentuk suatu morfologi khas yang dikenal sebagai karst. Fenomena karst yang dijumpai antara lain gua, ornamen gua, jaringan sungai bawah tanah serta bukit karst. Permukaan karst pada kawasan ini secara fisik memperlihatkan kondisi gersang namun pada bagian bawah permukaan terdapat sumber air yang melimpah yang mensuplai desa di dataran rendah untuk kebutuhan sehari - hari seperti air minum, dan pertanian. Namun akhir akhir ini pemanfaatan yang semakin tidak terkendali mengakibatkan sumber air menjadi terganggu. Kawasan karst menjadi salah satu potensi penting dari sisi sosial-ekonomi dan ilmu pengetahuan, bahkan kawasan karst memiliki fungsi hidrologi atau pengatur alami tata air yang sangat penting dalam mendukung keberlangsungan makhluk hidup. Kegiatan ekonomi yang dilakukan secara turun menurun oleh penghuni kawasan karst Nusa Penida antara lain: pertanian, peternakan, perkebunan, kehutanan, penambangan batu gamping, penambangan guano, pemanfaatan untuk air minum dan irigasi, perikanan, dan kepariwisataan (Sutikno, 2000:111). Disisi lain batugamping yang membentuk morfologi karst dapat menjadi komoditi sebagai bahan baku utama semen, pupuk pertanian dan bahan campuran lainnya. Sehingga pemanfaatan ini menjadi tidak terkendali menyebabkan permasalahan lingkungan yang akan mengganggu keberlangsungan hidup makhluk hidup. Atas dasar dua kepentingan yang saling bertolak belakang itulah perlunya penataan ruang pada kawasan karst supaya kepentingan tersebut terpenuhi dan seimbang. Di satu sisi kita perlu adanya konservasi pada kawasan karst ini, di sisi lain perlu adanya bahan baku untuk pemenuhan kebutuhan sehari - hari seperti semen dan sebagainya.